logo


Ini Alasan Terbaru Menteri ESDM Pantas Dipecat

Sudirman Said kerap membuat kebijakan yang merusak visi dan misi kedaulatan sumber daya alam

17 Februari 2016 16:33 WIB

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said. (Foto: Ist)
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said. (Foto: Ist)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Peneliti dari Lingkar Studi Perjuangan (LSP), Agus Prayitno mengungkapkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah sepatutnya mencopot Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said.

Sebab, menurut Agus, Sudirman Said kerap membuat kebijakan yang merusak visi dan program aksi kedaulatan sumber daya alam seperti tercantum dalam Trisakti dan Nawacita Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.

"Sudah selayaknya kerja Menteri ESDM dievaluasi total. Langkah Sudirman Said dalam mengelola ESDM cenderung mengabaikan kedaulatan. Kalau dibiarkan akan berakibat fatal," ungkap Agus kepada wartawan di Jakarta, Rabu (17/2).


Ini 10 Negara Penjual Bensin Termahal di Dunia

Agus menjelaskan, manuver terbaru dari Sudirman Said yang patut diwaspadai adalah terkait izin perusahaan tambang. Pasalnya, Sudirman Said terlihat sangat ingin sekali memberikan Izin Usaha Pertambangan (IUP) dengan masa berlaku seumur wilayah tambangnya bisa diproduksikan.

"Keinginan Sudirman Said ini patut diwaspadai, jangan-jangan mirip dengan rencana memberikan perpanjangan kontrak Freeport yang seharusnya dilakukan dua tahun sebelum kontrak habis (2019), tapi sudah mau diperpanjang sekarang," ujarnya.

Padahal, Agus melanjutkan, selama ini perusahaan-perusahaan tambang sudah diberikan keleluasaan melakukan ekspor mineral mentah. Jadi, sudah seharusnya mereka melakukan pengolahan di dalam negeri seperti yang diperintahkan oleh Undang-Undang Mineral dan Batu Bara (UU Minerba).

Agus juga menambahkan, atau sebagaimana pernah ditegaskan oleh Presiden Jokowi bahwa sumber daya alam harus menciptakan kemakmuran sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia.

"Perlu diwaspadai apakah ini juga akan menjadi bagian dari usaha Sudirman Said memberi angin segar bagi Freeport agar bisa mengeruk emas dan tembaga tanpa diolah di dalam negeri, serta memberi angin segar bagi kontraktor-kontraktor migas yang memegang cadangan Blok Masela yang juga akan habis kontraknya ketika memulai produksinya pada 2024 atau 2026 nanti," tutup Agus.

Tahun Ini, Program 35 Ribu MW Capai 44 Persen

Halaman: 
Penulis : Deni Muhtarudin
 
×
×