logo


Sepertiga Perusahaan Minyak Dunia Berpotensi Bangkrut

Anjloknya harga minyak telah membatasi belanja & kemampuan membayar utang perusahaan

17 Februari 2016 13:01 WIB

Ilustrasi tambang minyak. (Net)
Ilustrasi tambang minyak. (Net)

HOUSTON, JITUNEWS.COM - Hasil penelitian dari biro audit dan konsultan, Deloitte, menyatakan bahwa sepertiga perusahaan minyak dunia berada pada risiko tinggi mengalami kebangkrutan akibat dari harga minyak mentah yang terus menurun. Pasalnya, anjloknya harga minyak telah membatasi belanja dan kemampuan membayar utang perusahaan.

Penelitian tersebut dilakukan terhadap lebih dari 500 perusahaan produksi dan eksplorasi minyak dan gas bumi (migas) di seluruh dunia.

Beberapa isu yang jadi sorotan Deloitte diantaranya adalah harga minyak mentah yang bertengger di level terendah dalam lebih dari satu dekade, marjin yang menipis, dan tekanan untuk memangkas anggaran hingga Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap ribuan karyawan.


2018, OPEC Proyeksikan Harga Minyak Dunia Stabil

Berdasarkan hasil penelitian Deloitte, setidaknya ada 175 perusahaan minyak dunia yang berisiko bangkrut karena terlilit utang lebih dari US$ 150 miliar.

Selain itu, nilai penjualan saham dan aset juga menurun, sehingga menghalangi kemampuan mereka untuk memperbaiki kas perusahaan. "Perusahaan-perusahaan ini menunda keputusan penting selama mungkin dan sekarang mereka dalam bahaya dan kini menuju kematian. Ini soal likuiditas," ungkap Kepala Restrukturisasi Global Deloitte, William Snyder, seperti dilansir dari Kompas, Jakarta, Rabu (16/2).

Masih hasil penelitian tersebut, Deloitte juga menemukan bahwa perusahaan penyedia layanan tambang minyak, yakni yang menyediakan staf dan peralatan yang diperlukan untuk mengebor sumur minyak cenderung memiliki risiko yang lebih kecil untuk mengalami kebangkrutan ketimbang produsen. Pasalnya, produsen memiliki biaya modal dan utang yang lebih besar.

WOWS Jadi Primadona, Praktisi Migas: Kepastian Mendapatkan Minyaknya Lebih Tinggi

Halaman: 
Penulis : Deni Muhtarudin