logo


Singkawang Panen Padi 3 Kali Lipat dengan Teknologi Hazton

Teknologi Hazton merupakan teknik menanam yang mengadaptasi fisiologi tanaman padi

16 Februari 2016 20:19 WIB

Salah satu penemu metode Hazton, Bapak Ir. H. Hazairin,MS. (Istimewa)
Salah satu penemu metode Hazton, Bapak Ir. H. Hazairin,MS. (Istimewa)

SINGKAWANG, JITUNEWS.COM- Mulanya panen padi per tahun yang dihasilkan oleh petani di wilayah Singkawang, Kalimantan Barat, hanya mencapai 3 ton/hektare, tapi kini panen padi di wilayah itu naik 3 kali lipat menjadi 9 ton/hektare. Melonjaknya produksi tersebut disebabkan oleh pemanfaatan teknologi Hazton.  

Teknologi Hazton merupakan teknik menanam padi yang mengadaptasi fisiologi tanaman padi itu sendiri. Teknologi ini pun mulai dikembangkan sejak 2 tahun lalu di Kalimantan Barat. Adapun penemu teknologi ini adalah Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalimantan Barat, Hazairin, dan salah seorang stafnya bernama Anton, sehingga disingkatlah menjadi Hazton.

Hazairin mengatakan, teknologi Hazton baru berhasil diterapkan di Kalimantan Barat saat para petani mulai memperhatikan dan mengikuti pola, serta cara yang baik dan benar yang telah dianjurkan. "Sehingga, jarang sekali kegagalan teknologi Hazton disebabkan oleh petani yang keliru dalam mengikuti aturan atau penerapannya," ujarnya, dikutip Kalbarprov, Selasa (16/2).


Saatnya Bantu Petani dan Berinvestasi Melalui Crowde

Sementara itu, menyoal tentang teknologi ini, Di akhir tahun 2015, Kepala Subdirektorat Padi Tadah Hujan dan Lahan Kering Direktorat Budidaya Serealia, Ditjen Tanaman Pangan, Kementan, Syafruddin RB, turut memantau ujicoba metode tanam Hazton padi di beberapa daerah. Dan selama ini, ujicoba metode Hazton di beberapa daerah mendapat dukungan dari Bank Indonesia.

"Memang masih ada yang dilakukan di beberapa tempat yaitu seperti di Desa Pegalongan, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, dan di Lebak, Banten dan Cianjur, yang belum berhasil," ujar Syafruddin. 

Sampai saat ini, Syafruddin masih mencari penyebabnya karena tidak semua daerah dapat diterapkan teknologi Hazton ini sebab masing-masing daerah memiliki kultur tanah berbeda, agroklimatnya berbeda, dan iklimnya juga berbeda. "Hingga kini masih kita cari tahu," tandas Syafruddin.

Crowde Kini Jadi Solusi Petani dalam Urusan Pembiayaan

Halaman: 
Penulis : Christophorus Aji Saputro