logo


Minyak Tak Selamanya Murah, Energi Terbarukan Harus Dikembangkan

Pengembangan EBT adalah suatu keharusan, bukanlah pilihan.

16 Februari 2016 12:02 WIB

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rida Mulyana. (Foto: Istimewa)
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rida Mulyana. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rida Mulyana mengungkapkan, anjloknya harga minyak mentah dunia membuat orang berpikir skeptis terhadap pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT).

Namun, menurut Rida, siapa yang berani menjamin harga minyak dan batu bara akan tetap dalam posisi rendah seperti saat ini. "Orang menjadi skeptis terhadap pengembangan EBT, dilatarbelakangi 'pemikiran miopi (jarak dekat)'. Banyak yang bertanya kenapa kita nggak beli energi yang murah saja, saya jawab bahwa itu jangka pendek. Siapa yang bisa menjamin besok harga minyak dan batu bara masih rendah? Kita tetap harus memajukan EBT, apalagi UU Energi mengharuskan itu," ungkap Rida kepada wartawan baru-baru ini di Bali.

Pengembangan EBT, Rida menegaskan, bukanlah sebuah pilihan, bukan pula ambisi dari Pemerintah, namun sudah menjadi suatu keharusan untuk dilakukan.


Tambang Freeport Longsor

"Pengembangan EBT itu bukan keinginan saya, Pak Sudirman (Menteri ESDM) atau Presiden Jokowi, tapi amanah UU. Ndilalah (kebetulan) sama dengan tren global, nggak ada pilihan lain lagi. Pengembangan EBT itu bukan pilihan, itu suatu keharusan," tegasnya.

Selain UU, Rida menambahkan, pengembangan EBT juga tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 79 Tahun 2014 Tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN).

"Apalagi dipertegas dengan PP 79, prinsip nomor satu adalah memajukan EBT. Kenapa PP itu berani menyatakan demikian? Karena UU Energi sudah bilang bahwa EBT harus dikedepankan. Jadi salah kalau kita berhenti, apalagi mundur, nggak ada waktu untuk menoleh ke belakang," tutup Rida.

Indonesia Impor Gas Papua Nugini untuk Pabrik Pupuk Merauke

Halaman: 
Penulis : Deni Muhtarudin