logo


Begini Proses Terciptanya Benang Sutera yang Bernilai Fantastis

Kain sutera digadang-gadang merupakan kain nomor wahid dan identik dengan barang mewah

16 Februari 2016 06:00 WIB

Kokon sutera. (Foto: Istimewa)
Kokon sutera. (Foto: Istimewa)

CIANJUR, JITUNEWS.COM– Mungkin banyak orang awam bertanya-tanya, bagaimana ulat sutera bisa menghasilkan kain sutera yang digadang-gadang merupakan kain nomor wahid dan identik dengan barang mewah.  

Bambang Muhammad Ishak yang tergabung dalam kelompok peternak ulat sutera di Kabupaten Cianjur-Jawa Barat, kepada jitunews mengatakan, semua produk olahan sutera kini selalu menjadi komoditi incaran produsen kosmetik dan tekstil. Ia pun tak pelit ilmu untuk membeberkan proses pembentukan sutera dari telur hingga panen.

Dari mulai telur, ulat sutera memerlukan waktu satu bulan hingga menetas. Setelah menetas, ulat sutera dibedakan menjadi beberapa instar (ukuran). Perubahan instar terjadi ketika ulat tidur dan begitu terbangun, ulat sudah memasuki instar berikutnya. 


Ini Lho Kendala Utama Budidaya Ulat Sutera

Hal itu ditandai dengan ganti kulit. Ulat bisa tidur tiap 3-4 hari sekali dengan posisi alami tidur ulat kepala didongakkan ke atas. Ulat instar 1 merupakan ulat yang masih berusia 1-4 hari, instar 2 usia 2-4 hari, instar 3 sekitar usia 7-8 hari, instar 4 usia 15 hari, dan terakhir instar 5 usia 16-25 hari.

Setelah ulat memasuki instar 5, ukuran ulat sebesar jari kelingking orang dewasa, berwarna putih, dan bertekstur halus. Pada instar 5, ulat sudah siap mengokon. 

Jika ulat ingin mengokon bisa dilihat dari gerak-geriknya seperti nafsu makan berkurang, sering mendongakkan kepala ke atas, dan sering buang air. Masa lamanya ulat mengokon hingga kokon pisa dipanen, memakan waktu satu bulan. Sehingga jika diproyeksikan dalam satu tahun, bisa dilakukan hingga 7-8 kali panen pada ulat yang berbeda. 

Berat masing-masing kokon sutera bervariasi mulai dari 2 gram sampai yang paling berat 3 gram. Kokon sutera seberat 3 gram masuk dalam kategori grade A dan grade B jika berat kokon sutera tak sampai 3 gram. Menurut Bambang, dari 6 kg kokon sutera bisa diolah menjadi 1 kg benang, tetapi saat ini rata-rata 8 kg kokon sutera hanya bisa diolah menjadi 1 kg benang.

“Semakin sedikit volume kokon sutera yang diubah menjadi benang seberat 1 kg, maka kualitas kokon sutera semakin bagus. Di tempat saya itu rata-rata 8 kg kokon jadi 1 kg benang, meski begitu saya juga pernah mendapat 7 kg kokon sutera menjadi 1 kg benang. Tapi itu sangat jarang terjadi,” tukas Bambang.

Duh, Pohon Cendana di Indonesia Terancam Punah

Halaman: 
Penulis : Aditya Kurniawan, Christophorus Aji Saputro