logo


Holding BUMN Energi, Pakar: Harus Ada Sinergi

Pembentukan holding BUMN energi harus mencontoh 3 BUMN semen yang telah membentuk holding

15 Februari 2016 10:43 WIB

Pakar Ekonomi Energi Universitas Indonesia (UI), Berly Martawardaya. (Foto: Ist)
Pakar Ekonomi Energi Universitas Indonesia (UI), Berly Martawardaya. (Foto: Ist)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pakar Ekonomi Energi Universitas Indonesia (UI), Berly Martawardaya mengungkapkan, Pemerintah harus segera merealisasikan pembentukan holding (induk) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor energi.

Hal itu, menurut Berly, untuk membantu negara mewujudkan ketahanan energi nasional. Apalagi saat ini Indonesia menuju darurat energi dengan konsumsi yang makin meningkat, sedangkan produksi dan distribusi yang stagnan.

“Ini membutuhkan sinergi antar BUMN sektor energi untuk bersama-sama mengatasinya melalui pembentukan holding BUMN energi,” ungkap Berly kepada wartawan baru-baru ini di Jakarta.


Tolak Keputusan Holding dan IPO Pertamina, Serikat Pekerja: Kami Tidak Akan Pernah Ikhlas

Tahun ini, Berly mengatakan, adalah momentum yang tepat untuk mengimplementasikan pembentukan holding BUMN di sektor energi tersebut. Pasalnya, peta politik nasional sudah terkonsolidasi dan tidak ada pemilihan kepala daerah, sehingga Pemerintah bisa lebih fokus.

Berly menegaskan, Indonesia hanya punya waktu 15-18 tahun sampai cadangan minyak habis. Bila tidak mempercepat proses transisi ke gas dan Energi Baru Terbarukan (EBT), maka Indonesia hanya akan bergantung pada impor minyak.

Selain itu, Berly melanjutkan, pembentukan holding BUMN energi juga dapat meningkatkan daya saing dan memberi kontribusi nilai tambah positif terhadap kelompok usaha. Hal ini juga dialami oleh BUMN semen yang membentuk holding dengan menggabungkan tiga BUMN, yaitu PT Semen Tonasa (Persero) Tbk, PT Semen Padang (Persero) Tbk, dan PT Semen Gresik (Persero) Tbk dalam strategic holding di bawah bendera PT Semen Indonesia Holding (Persero) Tbk. “Kita lihat holding semen setelah dibentuk jadi bisa ekspansi ke Vietnam,” tutupnya.

Soal Pertamina Diswastakan, Guru Besar ITS: Janganlah Justru Swastanisasi Dijadikan Solusi

Halaman: 
Penulis : Deni Muhtarudin