logo


Pengeboran Lapindo Ancam Bandara Juanda dan Suramadu

Hasil penelitian ITS menunjukkan tanah-tanah di sekitar Porong Sidoarjo masih sangat aktif

14 Februari 2016 07:00 WIB

Semburan lumpur di Sidoarjo terjadi karena ada gempa atau patahan bawah lapisan tanah. (Foto; BarometerIndonesia)
Semburan lumpur di Sidoarjo terjadi karena ada gempa atau patahan bawah lapisan tanah. (Foto; BarometerIndonesia)

SURABAYA, JITUNEWS.COM - Ahli geomatika Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Teguh Hariyanto menyatakan tanah-tanah di sekitar pusat semburan lumpur Sidoarjo hingga saat ini masih sangat aktif bergerak. Dari hasil penelitian yang dia lakukan menunjukkan bahwa sebagian tanah ada yang mengalami penurunan (subsidence) dan sebagain lain justru mengalami kenaikan permukaan tanah (uplift).

"Hasil penelitian kami menunjukkan tanah-tanah di sekitar Porong Sidoarjo masih sangat aktif," ujar Teguh saat ditemui JITUNEWS.COM, di Surabaya, Sabtu (13/2).

Hasil kajian yang dilakukan sejak tahun 2009 hingga 2015 itu menunjukkan, tanah yang banyak mengalami subsidence berada di sisi barat dan utara dari pusat semburan lumpur Sidoarjo.

"Penurunannya cukup signifikan yakni 60 cm per tahun," beber Teguh.

Sebaliknya untuk tanah di sisi Timur dan Selatan pusat semburan lumpur, lanjut Teguh justru mengalami kenaikan (uplift) permukaan tanah. Namun besarannya masih kalah dibanding penurunan (subsidence).

"Kenaikan permukaan tanah yang mengalami uplift terdata mencapai 20 cm per tahun," tambahnya.

Ia menambahkan, bahwa lokasi sumur gas Tanggulangin milik Lapindo Brantas yang ada di Desa Kedungbanteng (TGA 6) masuk daerah yang mengalami uplift.

"Karena gerakannya masih cukup aktif, maka sebaiknya rencana pengeboran baru dikaji lebih mendalam lagi," pinta Teguh.

Sementara itu, Ketua Komite Eksplorasi Nasional (KEN), Andang Bachtiar menambahkan bahwa semburan lumpur di Sidoarjo terjadi karena ada gempa atau patahan bawah lapisan tanah.

"Semburan lumpur Sidoarjo terjadi akibat adanya gempa dan patahan, sehingga di sekitar Sidoarjo itu berbahaya untuk pengeboran," tegas Andang.

Senada, Ketua Pusat Studi Kebumian Bencana dan Perubahan Iklim ITS Surabaya, Amien Widodo, mengatakan bahwa terdapat patahan tanah di bawah Porong yang kemudian dikenal dengan istilah Sesar Watukosek yang memanjang dari Watukosek, Mojokerto hingga ke Madura. Namun patahan tersebut tidak pernah dikenal dalam peta geologi.

"Sesar Watukosek ini sengaja dimunculkan oleh Lapindo untuk pembenaran semburan lumpur Sidoarjo adalah bencana alam, makanya dimunculkan patahan Watukosek. Ini perlu dilakukan kajian untuk memastikan adanya patahan Watukosek," dalih Amien Widodo anggota Dewan Riset Daerah (DRD) Jatim.

Terpisah, Vice President Operations Lapindo Brantas Inc, Harsa Harjana, menambahkan, Lapindo Brantas siap menyerahkan data monitoring tekanan gas sejak sumur itu berproduksi di tahun 2009 sampai di 2016 ini.

“Data tekanan gas yang stabil itu  menggambarkan bagaimana kondisi tekanan di bawah permukaan. Itulah yang membuat Lapindo Brantas mampu memilih strategi pengeboran dan memilih desain casing yang tepat,” katanya.

Data-data itulah, lanjutnya, yang juga membuat Lapindo mengetahui persis apa saja problem yang mungkin terjadi dalam proses pengeboran, termasuk mengetahui potensi over pressure pada kedalaman di atas 2.900 kaki.

Dipaparkan, pada kedalaman 2.900 kaki mulai terjadi kenaikan pressure yang signifikan akibat penyempitan jarak antara pore pressure dan fracture pressure  atau yang dikenal sebagai narrow window.

Gandeng ITS, Pertamina Ciptakan Alat Pengubah Energi Gerak Menjadi Listrik

Halaman: 
Penulis : Ari Setiawan (KR), Riana