logo


Hipertensi Berisiko Demensia, Pola Hidup Sehat Bentengnya

Mengendalikan hipertensi terutama pada tekanan darah penting untuk dilakukan

13 Februari 2016 14:01 WIB


JAKARTA, JITUNEWS.COM - Selain berpotensi mengganggu fungsi ginjal dan jantung, hipertensi juga merupakan faktor utama yang mempengaruhi terjadinya demensia vaskuler pada pasien, oleh karena itu mengendalikan hipertensi terutama pada tekanan darah penting untuk dilakukan.

Dijelaskan oleh Dr.dr.Yuda Turana, SpS, Ketua InaSH, demensia disebabkan oleh multifaktor, selain faktor yang tidak dapat dimodifikasi yakni genetik, usia, jenis kelamin dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi yakni gaya hidup, merokok, penyakit komorbiditas seperti hipertensi, diabetes mellitus.

"Terdapat bukti bahwa hipertensi dapat menyebabkan risiko demensia dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian hipertensi di usia menengah menjadi faktor risiko di usia senja dimana apabila pengontrolan tekanan darah dilakukan dengan baik, dapat mencegah dan memperlambat terjadinya demensia vaskular dan Alzheimer,” ungkap dr. Yuda yang juga seorang ahli syaraf saat ditemui JITUNEWS.COM.

Salah satu gangguan yang terjadi akibat demensia ini adalah disfungsi visuo-spasial, sering tersesat di jalan dekat rumahnya sendiri, lupa dimana berada, bagaimana harus ke tempat tersebut dan tidak tahu bagaimana kembali ke rumah, hal ini disebabkan oleh pengerutan otak yang lebih cepat akibat hipertensi.

Pencegahan terhadap demensia pada kasus hipertensi ini adalah dengan cara mengonsumsi obat anti-hipertensi, penelitian menunjukkan penggunaan obat anti-hipertensi dapat menurunkan risiko demensia sebesar 8% setiap tahunnya pada pasien berusia di bawah 75 tahun.

“Masyarakat sangat berperan penting dalam upaya melawan penyakit hipertensi dengan cara menjalankan pola hidup sehat, minum obat secara teratur, dan memeriksa tekanan darah secara rutin,” lanjutnya.

Lebih lanjut dr. Yuda menjelaskan, demensia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kumpulan gejala atau sindrom terjadinya penurunan fungsi kognitif yang biasanya bersifat kronis atau progresif. Oleh karena itu, demensia menjadi salah satu penyebab utama ketergantungan lansia terhadap keluarga atau pengasuhnya (WHO, 2012). Peningkatan angka kejadian demensia terjadi seiring bertambahnya usia.

Demensia terbagi atas dua jenis yakni, demensia Alzheimer, demensia yang disebabkan oleh proses degeneratif di otak yang progresif dan demensia vaskuler, demensia yang disebabkan oleh masalah vaskuler seperti stroke. Prevalensi demensia meningkat dua kali setiap pertambahan usia lima tahun setelah melewati usia 60 tahun. Faktor risiko kejadian demensia selain dari segi usia adalah hipertensi. Hipertensi yang lama dapat menyebabkan aterosklerosis dan gangguan autoregulasi serebrovaskular, yang pada gilirannya diduga berkorelasi dengan demensia.

Lansia yang menderita hipertensi dapat menderita demensia karena hipertensi berperan mempercepat arteriosklerosis pembuluh darah otak sehingga mengganggu perfusi dan meningkatkan kemungkinan terjadinya infark. Infark di daerah hippocampus dan amigdala mengakibatkan demensia.

"Hipertensi juga mengakibatkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah sehingga terjadi ekstravasasi protein ke dalam parenkim otak. Protein ini akan membentuk plak yang menyebabkan kematian neuron sehingga terjadi defisit neurotransmiter asetilkolin yang mengakibatkan demensia. Orang yang menderita hipertensi memiliki kemungkinan 2,7 kali untuk menderita demensia dibandingkan orang yang tidak menderita hipertensi," pungkasnya.

Bukan Karena Paru-paru Basah, Ini Penyebab Keringat di Telapak Tangan

Halaman: 
Penulis : Suciati, Riana