logo


Padi dan Kangkung Jadi Andalan Agrowisata Kemasan

Kebetulan, hasil budidaya kangkung Desa Kemasan dianggap cukup terkemuka terutama di pasaran Soloraya

11 Februari 2016 11:58 WIB

Ilustrasi petani kangkung. (Foto: beritadaerah.co.id)
Ilustrasi petani kangkung. (Foto: beritadaerah.co.id)

BOYOLALI, JITUNEWS.COM – Setiap daerah di Indonesia memiliki komoditi hortikultura unggulannya masing-masing. Namun, tak banyak dari daerah tersebut yang menjadikan komoditas pertaniannya sebagai objek wisata dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan atau wisata edukatif.

Salah satu daerah yang mulai mengembangkan potensi pertaniannya sebagai objek pariwisata edukatif itu adalah Desa Kemasan, Kecamatan Sawit, Boyolali, Jawa Tengah. Ya, sejak tahun 2014 silam, petani Kemasan mulai mengembangkan komoditi padi dan kangkung unggulannya untuk dijadikan objek agrowisata.

Dilansir dari laman Solopos, ide pengembangan wisata berbasis pertanian lokal tersebut dimunculkan oleh badan keswadayaan masyarakat desa setempat. BKM kemudian membentuk Dewa Emas (kepanjangan Desa Wisata Kemasan) yang berfungsi mengelola pariwisata di desa tersebut.

“Salah satu potensi hasil pertanian di Kemasan adalah kangkung. Dalam paket wisata yang kami buat ada petik kangkung dan bajak sawah,” kata Manager Dewa Emas, Partini.

Dewa Emas inilah yang kemudian bermitra dengan 100-an petani, baik petani padi maupun petani kangkung untuk sama-sama memanfaatkan potensi pertanian menjadi objek wisata. Kebetulan, hasil budidaya kangkung Desa Kemasan dianggap cukup terkemuka terutama di pasaran Soloraya.

“Kalau orang bilang kangkung ngumbul atau kangkung mungup, pasti tahu kalau itu hasil budidaya dari Kemasan,” ujar Partini.

Sebagai informasi, kangkung ngumbul asal Kemasan dinilai memiliki cerita historis yang dekat dengan kebiasaan Raja Keraton Solo. Seusai mandi atau siraman di Umbul Tirtomulyo di desa setempat, Raja Solo selalu pulang membawa kangkung dari petani di sekitar umbul.

Paket Wisata. Paket wisata yang diusung Dewa Emas ini adalah petik kangkung dan bajak sawah, yang dipadukan dengan beragam paket outbound seperti renang, tangkap ikan, wall climbing, flying fox, dan berbagai macam jenis permainan.

Masa tanam kangkung yang cukup singkat yakni sekitar 20 hari, memastikan pengelola agrowisata tidak kehabisan stok kangkung untuk dipetik wisatawan. Lahan petani kangkung lokasinya tersebar. Ini yang membuat menarik karena wisatawan bisa berjalan keliling kampung menuju lokasi petik kampung.

“Ada yang lokasinya dekat dengan sekretariat Dewa Emas, tetapi ada juga yang jauh. Lokasi untuk wisata tentu menyesuaikan, di mana ada lahan yang siap panen, pasti akan kami booking untuk wisata edukasi,” jelas Partini.

Begitu pula untuk bajak sawah. Di mana ada lahan kosong yang siap ditanami, nanti lokasinya bisa dipakai untuk wisata.

“Kebetulan kemitraan kami dengan petani sudah cukup kuat. Petani juga banyak menerima keuntungan karena biasanya mereka juga dapat fee dari wisatawan,” tambah Partini.

Pengembangan agrowisata di Desa Kemasan ini mulai memberikan multiefek. Petani kangkung, misalnya, mulai mengolah kangkung menjadi kerupuk. Wisatawan juga bisa menikmati edukasi pembuatan kerupuk kangkung di Kemasan.

Diakui Partini, saat ini Dewa Emas belum punya tenaga khusus untuk pemasaran. Promosi masih sebatas dilakukan via website dan fanpage. Mereka pun melakukan promosi konvesional dengan mendatangi sekolah-sekolah.

Partini menilai, dukungan pemerintah terhadap pengembangan agrowisata di Kemasan cukup bagus.

“Selalu ada pendampingan kepada petani agar produksi kangkung tetap baik. Gapoktan di Kemasan juga mendapat bantuan alat dan sarana produksi pertanian,” pungkasnya.

Apa Yang Dimaksud Model Pertanian Save And Grow? Ini Jawabannya

Halaman: 
Penulis : Riana