logo


Panglima TNI: Media Menjadi Motor Penggerak Bangsa

Pasalnya, media sebagai sarana informasi dan pendidikan memiliki peran yang sangat penting dan sangat strategis.

6 Februari 2016 08:30 WIB

Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, sedang memberikan ceramah. (Dokumentasi Pusat Penerangan TNI)
Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, sedang memberikan ceramah. (Dokumentasi Pusat Penerangan TNI)

SURABAYA, JITUNEWS.COM - Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI), Jenderal Gatot Nurmantyo mengungkapkan, media massa sebagai sarana informasi dan pendidikan memiliki peran yang sangat penting dan sangat strategis, yakni sebagai motor penggerak kemajuan bangsa.

Hal itu disampaikan Gatot dalam ceramahnya didepan 240 awak media cetak dan elektronik dalam diskusi yang bertajuk “Memahami Ancaman, Menyadari Jati Diri Sebagai Modal Membangun Menuju Indonesia Emas” dalam rangka meningkatkan Wawasan Kebangsaan pada acara Sail of Journalist di atas KRI Makassar-590, Surabaya, Jum’at (5/2/16).

Gatot juga mengatakan bahwa Indonesia tengah mewaspadai penyebaran Proxy War. Salah satu jenis peperangan ini masuk ke dalam kategori perang yang mematikan. Proxy War diartikan sebagai peristiwa saling adu kekuatan di antara dua pihak yang bermusuhan dengan menggunakan pihak ketiga. Pihak ketiga ini sering disebut dengan boneka. Pihak ketiga ini dijelaskan sebagai pihak yang tidak dikenal oleh siapapun, kecuali pihak yang mengendalikannya dari jarak tertentu. Oleh karena itu, pihak-pihak seperti mahasiswa, organisasi masyarakat (ormas), lembaga masyarakat, dan perorangan disinyalir mudah menjadi boneka atau pihak ketiga tersebut.


Politikus PPP Sebut Suami Anggiat Pasaribu Sedang Diproses POM TNI

Menurut Panglima TNI, salah satu Proxy War saat ini berlatar belakang energi. Proxy War di Indonesia semakin nyata dengan adanya pergeseran konflik dunia tentang energi tersebut.

“Sekitar 70 persen konflik di dunia berlatar belakang energi. Peningkatan energi pada tahun 2007-2009 juga memicu kenaikan harga pangan dunia yang mencapai 75 persen. Di sisi lain, hanya ada negara-negara yang dilintasi ekuator yang mampu bercocok tanam sepanjang tahun negara tersebut, seperti Amerika Latin, Afrika Tengah, dan Indonesia sendiri,” ungkap Gatot kepada Jitunews.com melalui siaran pers, Surabaya, Jum'at (5/2).

Oleh karena itu, Gatot mengatakan, cadangan energi pengganti harus segera ditemukan. “Saat ini sisa cadangan energi dunia hanya sisa 45 tahun dan itu akan habis jika kita semua tak berusaha menemukan penggantinya, karena konsumsi energi 2025 meningkat 45 persen,” katanya.

Panglima TNI Akan Tindak Tegas Jika Ada Anggota yang Terlibat Cekcok Arteria Dahlan dan Anggiat Pasaribu

Halaman: 
Penulis : Deni Muhtarudin