logo


Daging Sapi Mahal, Pengusaha Daging Olahan Menjerit

Pengusaha daging olahan tidak mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga daging sapi

4 Februari 2016 15:11 WIB

Pedagang memotong daging sapi di salah satu pasar di Jakarta. (Foto: Dok. beritadaerah.co.id)
Pedagang memotong daging sapi di salah satu pasar di Jakarta. (Foto: Dok. beritadaerah.co.id)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Ketua Umum Asosiasi Industri Pengolah Daging Nasional (Nampa) Ishana Mahisa mengakui, bahwa pengusaha daging olahan tidak mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga daging sapi. 

"Kebijakan pemenuhan daging sapi olahan dipisahkan dengan pemenuhan kebutuhan daging sapi yang ke konsumen secara langsung," ungkap Mahisan dalam acara Agribisnis di Jakarta, Kamis (04/02).

Melihat harga di pasaran, lanjut Mahisa, jika daging sapi seharga Rp 130 ribu per kilogram (kg), maka daging olahan untuk industri hanya Rp 60 ribu per kg.


Jamin Stok Sapi Potong Aman, KPPU Awasi Ketat 36 Feedloter Jelang Lebaran

Namun, pasokan daging olahan nasional juga masih terbatas. Maka, jika pemerintah merealisasikan impor daging olahan dari negara yang belum dinyatakan bebas penyakit mulut dan kuku (PMK), kemungkinan para pengusaha bisa bersaing di perdagangan bebas ASEAN. 

"Kita terlepas dari ancaman terjangkitnya ternak nasional oleh PMK karena pemerintah akan membuka gerbang impor ternak dari negara yang belum dinyatakan bebas PMK. Sebab, Malaysia dan Filipina telah memasukkan daging murah dari India yang notabene belum dinyatakan bebas PMK," ujar Mahisa.   

Sementara itu, kenaikan harga sapi juga tidak dirasakan oleh peternak lokal. Peternak asal Lampung, Nanang Purus mengatakan, keuntungan yang diterimanya hanyalah sedikit dan langsung habis saat membeli sapi baru yang mahal. 

"Situasi sekarang populasi kita mengalami penurunan drastis, ditandai dengan kelangkaan sapi di pasar ternak," pungkasnya. 

Mendekati Hari-H Lebaran, Pemerintah Diminta Antisipasi Lonjakan Harga Daging

Halaman: 
Penulis : Tommy Ismaya