logo


Inovasi Jitu Kompos Organik Produksi Pesantren Biharul Ulum

Dengan penggunaan kompos organik ini diharapkan daya dukung lingkungan semakin meningkat

2 Februari 2016 18:20 WIB

Hadirnya kompos organik produksi Pesantren Biharul Ulum sangat membantu masyarakat Halimun Utara menciptakan pertanian sehat nan ramah lingkungan. (Foto: Jitunews/Aditya Kurniawan)
Hadirnya kompos organik produksi Pesantren Biharul Ulum sangat membantu masyarakat Halimun Utara menciptakan pertanian sehat nan ramah lingkungan. (Foto: Jitunews/Aditya Kurniawan)

BOGOR, JITUNEWS.COM – Deru kegiatan tambang emas yang berlangsung di sebelah utara kawasan Taman Nasional Gunung Halimun membuat masyarakat setempat terlena untuk melakukan penambangan dan meninggalkan pertanian sejak dekade 90-an hingga kini. Hal tersebut membuat kondisi tanah dan air mulai tercemari limbah merkuri sehingga tak layak konsumsi.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, Pondok Pesantren Agro Ekologi Biharul Ulum yang mulai berdiri sejak 2 tahun lalu mulai melakukan terobosan dengan mengajak warga, khususnya yang berada di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogo,r untuk kembali bertani dengan sistim yang lebih ramah lingkungan, salah satunya dengan menggunakan kompos organik.

Di kawasan tersebut sebetulnya memiliki benih warisan yang jika dikembangkan secara berkesinambungan dapat mendatangkan nilai ekonomis, seperti padi hitam, sayuran, tomat dan cabai serta singkong dan umbi-umbian.

Ridwan Maulana, seorang santri dan petani di Kecamatan Nanggung yang sudah berhasil membuat kompos mengatakan, bahwa hadirnya kompos organik sangat membantu masyarakat menciptakan pertanian sehat nan ramah lingkungan.

Satu suara dengan muridnya, Edi Samsi, selaku pencipta kompos, menambahkan bahwa dengan kompos ini diharapkan daya dukung lingkungan semakin meningkat.

Sesuai namanya, bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kompos tersebut merupakan bahan-bahan yang mudah ditemukan di alam, seperti dedaunan hijau dan kotoran hewan ternak. Baik Edi dan Ridwan dengan senang hati menjelaskan tahapan pembuatan kompos hingga kompos siap pakai.

Langkah pertama untuk membuat pupuk ini adalah menyiakan kotoran kambing, kotoran ayam, kedebong pisang, rebung, dedaunan hijau dan tanah hitam dengan perbandingan sama rata kecuali rebung. Rebung diikut sertakan dalam adonan kompos bertujuan untuk menciptakan bakteri baik untuk mempercepat pertumbuhan tanaman.

“Misalkan, kotoran kambing 10 karung, dedaunan hijau 10 karung, tanah 10 karung dan kotoran ayam 10 karung, pemakaian rebung paling hanya 3 batang saja,” ucap Ridwan kepada JITUNEWS.COM.

Langkah selanjutnya adalah mencacah masing-masing bahan hingga halus lalu aduk sampai rata. Ridwan mengatakan, jika dalam adonan kompos sudah memakai rebung tidak perlu lagi dicampurkan air garam dan air gula karena memiliki fungsi yang sama.

Setelah semua bahan teraduk rata, lanjut Ridwan, sungkup adonan kompos dengan memakai terpal atau drum, yang terpenting adonan kompos tidak terkena sinar matahari dan terpapar air hujan. Kemudian aduk adonan kompos tiga hari usai penyungkupan. Setelah itu, pengadukan dilakukan satu minggu sekali selama 3 bulan masa penyungkupan.

“Pengadukan bertujuan supaya bahan-bahan tercampur dan masak merata, salah satu tanda bahwa kompos siap digunakan ketika adonan kompos sudah lagi tidak mengeluarkan aroma bau,” jelas Ridwan.

Kompos ciptaan Edi di bawah naungan Pesantren Ulum ini terbukti ampuh dalam menyuburkan tanaman hingga masuk masa panen, karena bersifat organik sayuran yang diberikan kompos siap panen diusia 40 hari sejak tanam. Pemberian kompos pada sayuran bukan ditebar melainkan dituangkan satu per satu ke masing-masing tanaman.

Edi dan Ridwan juga berhasil menciptakan MOL kepanjangan dari Multi Organisme Lokal berupa kompos cair berbahan buah-buahan busuk, limbah sayur dan rebung dengan perbandingan sama rata tanpa harus mengurangi jumlah rebung. Sebagai tambahan, berikan gula merah sebanyak 3% dari banyaknya adonan MOL dan juga tambahkan air kelapa.

“Misalkan dari satu ember adonan, gula merahnya paling hanya 3 ons dan untuk air kelapa tergantung kebutuhan. Biar lebih sempurna berikan juga air rendaman beras. Fungsi dari air kelapa dan air beras sendiri selain untuk membasahi agar tercipta kompos cair juga untuk menyehatkan tanaman. Khusus hadirnya gula merah untuk memunculkan bakteri baik,” ungkap Ridwan

Setelah adonan MOL tercampur rata, kata Ridwan, sungkup kembali selama 15 hari. Nah, selama proses penyungkupan, buat lubang pada wadah sungkup lalu berikan selang dimana ujung selang satunya berada didalam air untuk menyuplai oksigen. Tanpa hadirnya selang dikhawatirkan adonan MOl didalam sungkup dapat meledak.

Raup Untung Hingga Rp 5 Juta dari Pepaya California

Halaman: 
Penulis : Aditya Kurniawan, Riana