logo


Karantina Pertanian Surabaya Gagalkan Penyelundupan Buah Ilegal

Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya menahan empat kontainer buah dari luar negeri (Korea dan China) yang tidak sesuai dengan dokumen yang dilaporkan.

2 Februari 2016 11:18 WIB

Petugas Karantina Surabaya, Jawa Timur, berhasil menggagalkan upaya penyelundupan masuk buah ilegal ke tanah air. (dok.kementan)
Petugas Karantina Surabaya, Jawa Timur, berhasil menggagalkan upaya penyelundupan masuk buah ilegal ke tanah air. (dok.kementan)

SURABAYA, JITUNEWS.COM - Maraknya barang ilegal masuk ke tanah air menjadi PR tersendiri bagi pemerintah untuk terus memperketat penjagaan di lintas batas menjaga setiap barang yang masuk ke tanah air. Pasalnya beberapa waktu lalu pihak karantina pertanian Surabaya berhasil menggagalkan upaya penyelundupan masuk buah ilegal ke tanah air.

Upaya ini dilakukan oleh pihak karantina pertanian sebagai mana yang diamanahkan dalam UU No. 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan untuk mencegah masuk dan tersebarnya Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) serta melakukan pengawasan pangan segar asal tumbuhan.

Sebagai kelanjutan dari amanah UU tersebut beberapa waktu yang lalu, Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Surabaya menahan empat kontainer buah dari luar negeri (Korea dan China) yang tidak sesuai dengan dokumen yang dilaporkan di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

"Kami telah menggagalkan upaya penyelundupan buah ilegal ke tanah air, kami melakukan penahanan karena prosedur pengiriman dan data-data yang lain sangat tidak sesuai," demikian kata Arifin Tasrif, Kepala Pusat Kepatuhan, Kerjasama dan Informasi Perkarantinaan - Badan Karantina Pertanian, seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Jitunews.com, Selasa (2/2).

Lebih lanjut, Ia mengatakan bahwa hal ini diketahui pada saat dilakukan Tindakan Karantina berupa pemeriksaan fisik oleh Petugas Karantina Tumbuhan terhadap kiriman buah-buahan tersebut, ternyata berbeda antara jenis buah yang tercantum dalam dokumen karantina (phytosanitary certifacate), dengan jenis buah yang ada dalam kontainer.

"Data yang kami pegang dan fakta di lapangan sangat berbeda," demikian katanya.

Adapun hasil temuan dari badan karantina pertanian Surabaya tersebut diantaranya, Pemasukan buah pear 1 kontainer berasal dari Korea Selatan yang mana dalam dokumen phytosanitary certificate tertulis pir (pyrus comunis) sejumlah 1.775 karton (12.842.500 kg), namun hasil pemeriksaan fisik, terdapat lima jenis masing-masing, pir (1.335 karton), apel (360 karton), kurma merah (lima karton), kimchi (89 karton), dan hazel nut (empat karton).

Sementara itu ada juga Pemasukan buah pear 3 kontainer berasal dari China yang mana dalam dokumen phytosanitary certificate tertulis pear (pyrus comunis) sejumlah 7.200 karton (51.840 kg) namun hasil pemeriksaan fisik ditemukan 3 jenis buah-buahan yang ada diantaranya pir (1.394 karton), Jeruk Ponkam (5.214 keranjang), Jeruk Honry Murcot (1.157 karton).

Menurut, Arifin Tasrif, berdasarkan ketentuan Pasal 5 UU No. 16/1992 bahwa setiap media pembawa (buah-buahan) yang dimasukan ke dalam wilayah negara RI wajib dilengkapi surat kesehatan tumbuhan (phytosanitary certificate) dari negara asal. Dengan demikian kedua pemasukan buag ditata tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Terhadap pelanggaran pemasukan buah ini dapat dikenakan sanksi pidana sebagaimana yang diatur dalam Pasal 31 UU No. 16/1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan dan agar penegakan hukum dapat berjalan dengan optimal, Karantina Pertanian Surabaya akan berkoordinasi dengan instansi terkait

Harga Kedelai Impor Melambung, Sekjen KITA: Kedaulatan Pangan Jangan Cuma Jargon

Halaman: 
Penulis : Siprianus Jewarut, Syukron Fadillah