logo


Hobi yang Menghasilkan Uang

1 April 2014 14:08 WIB


JAKARTA, JITUNEWS.COM - Banyak kisah, demi hobi seseorang berani mengeluarkan uang miliaran rupiah, bahkan lebih. Namun, hobi tak selamanya berarti mengeluarkan uang. Hal ini dibuktikan oleh Leony Agus Setyawan, pemilik Azka Busana Muslim. Berawal dari hobi mendesain, ia kemudian mencoba merintis usaha di bidang fashion pada 2001 dengan modal Rp 5 juta.

Rupanya, usaha ini cukup menjanjikan dan berkembang baik. Pada 2002-2005, usaha Leony dikembangkan menjadi usaha jahitan dengan sistem butik. Namun, hingga pertengahan 2005, usaha dengan sistem butik ini kurang berkembang. Malah sebaliknya, terus mengalami penurunan dan menjurus bangkrut.

“Boleh dibilang  2005 adalah tahun kebangkrutan sekaligus tahun kebangkitan Azka.  Pada saat itu, semangat atau motivasi kami menurun, tetapi alhamdulillah Sucofindo memberikan pelatihan tentang motivasi, sehingga semangat kami kembali bangkit disertai ide dan inspirasi baru,” kenangnya.

Setelah melakukan perbaikan dan perubahan, dengan menggabungkan sistem butik dan konfeksi, serta proses aplikasi sulam tangan (hand made), Azka mulai menunjukkan perkembangan signifikan. Produk awalnya dimulai dengan membuat busana Muslim pria (koko) dan sejak saat itu dideklarasikan nama Azka Koko Sulam Etnik.

Leony menuturkan, sistem ini dapat menghasilkan produk massal, tapi berkualitas butik dan unik. Seiring dengan perkembangan, produk yang dihasilkan pun mulai beragam. Selain koko, produknya,  gamis, blus, sarimbit ayah bunda, dan anak. Saat ini, Azka lebih cocok dengan nama Azka Busana Sulam Etnik.

Produknya adalah busana pria (koko), blus wanita Muslim, dan setelan anak. Pada waktu-waktu tertentu, mereka juga memproduksi gamis wanita dan setelan wanita.

Selain itu, mereka  memproduksi busana sepasang dan serasi (sarimbit). Misalnya, sarimbit koko dan blus dewasa untuk ayah bunda, sarimbit blus dewasa dan blus anak (ibu-anak). Bahkan, pada saat menjelang Idul Fitri, Azka memproduksi sarimbit keluarga yang terdiri dari koko dewasa (ayah), blus dewasa (ibu), koko anak, dan blus anak. Tak hanya itu, mereka  memproduksi busana Muslim independen yang bisa dipakai untuk berbagai kegiatan.


Pergantian Model

Keunikan busana Muslim Azka adalah sulam tangan sebagai aplikasi dalam seluruh busananya dengan corak sulam yang mengarah ke etnik, unik, simpel, dan manis. Azka juga selalu berusaha menghasilkan produk yang berkualitas, unik, inovatif, dan dengan harga yang terjangkau. Caranya, pertama, mengganti  model setiap tiga bulan (ganti katalog) dan menghadirkan produk dengan model dan jumlah yang terbatas (limited edition). Kedua, model yang diciptakan adalah yang  original, inovatif, dan trendy.

Walaupun busana Muslim, tapi Azka berupaya agar model yang dihasilkan fleksibel dan serasi di berbagai suasana. Artinya, produk yang dihasilkan tidak selalu menjadi busana beribadah semata, tetapi juga bisa digunakan untuk  acara-acara lain, seperti bekerja, resepsi, arisan, pengajian, rekreasi, dan acara santai. Harga jualnya pun selalu diusahakan terjangkau oleh masyarakat umum.

Dalam menentukan proses produksi, Azka berupaya menggabungkan beberapa prinsip, yakni membangun produk busana Muslim dengan model unik, inovatif, dan berkualitas, memberdayakan masyarakat sekitar, yang sebelumnya tidak produktif menjadi produktif, membangun sentra produksi sulam di Ciomas (Bogor) dan sekitaranya, meningkatkan kesejahteraan bersama antara pemilik usaha, pekerja, masyarakat sekitar, dan mitra bisnis.

Hal ini sejalan dengan motto yang dipegang Azka, yakni sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi diri, keluarga, dan lingkungannya. Motto ini pula yang mendorong pemilik usaha Azka untuk terus berkarya guna membantu masyarakat keluar dari krisis ekonomi.

Dengan prinsip itu pula pengelola Azka berupaya untuk menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 yang diraih pada 9 Maret 2007. Dengan menerapkan ISO 9001:2000  dipastikan kualitas produk Azka  terjamin, sebab mereka wajib menjalankan fungsi pengawasan kualitas (quality control) mulai dari pembelian bahan baku sampai diolah menjadi barang jadi.

Untuk pemasaran, Azka menerapkan sistem penjualan langsung (direct selling). Sistem ini memungkinkan tim pemasaran (agen) lebih aktif memasarkan produk dengan mendatangi konsumen. Dengan cara ini, para agen bisa mendapatkan informasi dari konsumen mengenai produk Azka.

Penjualan langsung  dinilai merupakan solusi yang tepat menghadapi pasar pada masa sepi, sehingga akan tercipta kestabilan penjualan sepanjang tahun. Selain itu, dengan sistem ini diharapkan tercipta pelanggan yang loyal terhadap produk Azka, karena selain  unik, inovatif, berkualitas, dan harga memadai, pada produk juga ada sentuhan personal dari agen. Dengan demikian, ada jalinan hubungan batin antara konsumen, agen penjualan, dan Azka.

Dalam mengembangkan usaha ini, Azka mendapat banyak bantuan dari PT Sucofindo berupa bantuan modal dengan bunga ringan, pameran di dalam dan luar negeri, pelatihan manajemen, desain, motivasi, dan sebagainya.

Leony menuturkan, pelatihan lain diperoleh dari Disperindag Kabupaten Bogor, Disperindag Jawa Barat, YDBA Astra, dan sebagainya. Kendati usahanya masih tergolong usaha kecil menengah, namun Leony tetap menyisihkan sebagian keuntungan untuk melakukan kegiatan sosial sebagai tanggung jawab mereka terhadap lingkungan atau corporate social responsibility (CSR).

Di antaranya, membagikan sembako kepada  fakir miskin, jompo, janda, dan anak yatim, memberikan pinjaman tanpa bunga dan bimbingan bagi usaha informal mikro, seperti usaha jamu gendong, gado-gado, dan warung. Kemudian , sunatan massal bagi anak-anak kurang mampu dan rehabilitasi sarana lingkungan, seperti jalan desa dan MCK (mandi, cuci, kakus).

Semua ini dilakukan karena pengelola Azka berupaya menerapkan spiritual company yang tidak menjadikan uang/laba sebagai tujuan akhir, tetapi  sebagai medium untuk melakukan hal-hal yang lebih baik bagi kesejahteraan umat manusia. Barangkali prinsip usaha ini pula yang telah mengantarkan Azka meraih Young Entrepreneur Award pada 2009. Tak hanya itu, jika pada awalnya Azka hanya memiliki dua  tukang sulam, sekarang  menjadi  250 orang, dengan omzet rata-rata Rp 200 juta per bulan.


 

Rizal Djaafarer: Anggrek, Sebuah Pilihan Hidup

Halaman: 
Penulis :