logo


Berani Mengubah Arah Bisnis

1 April 2014 13:30 WIB


Jalan hidup tak selamanya mulus. Ada suka, ada duka. Sayangnya, tak semua orang bisa realistis menerima kenyataan. Sebagian besar orang justru tak mau menerima kenyataan jika menderita kedukaan, kerugian dalam berbisnis, apalagi bankrut.Tapi, tidak untuk Suyitno. Bagi pria kelahiran Magetan, 2 Juni 1964, hidup ini ibarat sebuah perjalanan yang tak seorang pun tahu di mana ujungnya. Sekalipun demikian, hidup ini tetap harus dijalani. Dengan prinsip menjalani hidup seperti air mengalir, setelah lulus dari Institut Teknologi 10 November, Surabaya, Jawa Timur, pada 1989, ia pun melamar kerja sebagaimana pada umumnya yang dilakukan mahasiswa setelah lulus kuliah. Ia mencoba mengadu nasib sebagai karyawan di Surabaya dan Jakarta.

Berbagai pekerjaan telah ditekuninya, mulai dari perbankan, pialang saham, hingga pabrik. Semuanya ditempuh bak air mengalir. Di antara sekian banyak pekerjaan yang pernah dijalaninya, ia sempat jatuh hati sebagai investor ritel saham. Maklum, pada era 1990-an hingga 2000, bursa efek Indonesia tengah mengalami perkembangan pesat. Ia pun meraup keuntungan yang cukup menjanjikan.

Sayangnya, krisis keuangan yang kemudian menjadi krisis multidimensi pada 1997, telah meluluhlantahkan seluruh harapannya. Suyitno yang berpikir, bisa menghidupi keluarga dari bermain saham, ternyata mengalami kerugian besar. Ambruknya bursa saham Indonesia, saat itu, turut berdampak terhadap investasinya. Ia mengalami kerugian besar, sehingga terpaksa menjual harta bendanya untuk melunasi utang-utang. Kondisi ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi ayah tiga orang ini.

Tak Putus Asa

Sekalipun harus rela kehilangan harta benda, termasuk sejumlah mobil, tapi semangat Suyitno tidak pernah pupus. Melihat istrinya mampu membuat minuman dari aneka buah, muncul ide untuk menjual hasil produksi sang istri. Setelah berdiskusi dengan istrinya, Suyitno pun merintis usaha penjualan minuman aneka buah.  “Usaha ini sebenarnya terbilang kepepet, tapi saya yakin bisa mendapatkan pasar yang memadai. Apalagi, minumannya enak,” tuturnya.

Ia kemudian mulai mencari cara untuk mengemas minuman buah-buahan siap saji dalam kemasan gelas plastik. Suyitno berpikir, kemasannya harus siap, sehingga konsumen bisa langsung mengonsumsinya. Menyadari ia tak memiliki pengalaman di bidang tersebut, Suyitno pun mulai mencari informasi ke berbagai pihak. Jerih payahnya ini tidak sia-sia. Usahanya mulai membuahkan hasil. Produk dipasarkan ke berbagai pasar dan koperasi  di Jabodetabek dan Karawang. Namun, dalam perjalanannya, ternyata banyak pedagang yang mangkir, sehingga banyak utang. Suyitno akhirnya memutuskan untuk menjual produknya ke koperasi-koperasi, karena dalam pandangannya, koperasi tidak mungkin menipunya dan bisa dijamin ia akan mendapatkan pembayaran  rutin.

Sayangnya, pada 2001, usahanya mengalami guncangan. Hadirnya sejumlah pemain besar di sektor minuman buah kemasan menjadi pukulan berat buat Suyitno. Ia tidak bisa bersaing dengan mereka, karena para pemain besar ini bisa mendapatkan bahan baku, terutama gula,  dengan harga yang lebih murah.  “Para pemain besar ini bisa mengimpor gula dengan harga yang lebih murah dari pasar lokal, sedangkan saya tidak bisa. Sehingga, harga pokok produksi saya tinggi. Di pasar mereka bisa menjual dengan harga yang lebih murah. Nah, di sini saya mulai goyah. Saya kemudian berpikir untuk banting stir, pindah ke bisnis lainnya, yakni krom nikel dan pembuatan suku cadang dengan pertimbangan ini lebih dekat dengan ilmu teknik kimia yang dipelajari saat kuliah, ” tutur Suyitno.

Namun, upayanya ini tidaklah mulus. Ia mendapat banyak tantangan. Salah satunya dari para pembinanya. Mereka menyarankan agar ia tetap menjalani bisnis yang sudah digelutinya. Tetapi, karena ia memiliki keyakinan bahwa sudah saatnya ia mengubah arah bisnis dengan berpindah ke jalur bisnis baru, maka ia terus berusaha meyakinkan para pembinanya.  Akhirnya, dengan tekad bulat dan dukungan analisis yang akurat, Suyitno pun beralih ke bisnis penyediaan suku cadang sepeda motor dan krom nikel. Dengan dukungan dan pembinaan dari PT Sucofindo, usahanya terus berkembang.

“Selain bimbingan manajemen, saya juga mendapatkan dukungan keuangan dengan bunga relatif murah dari Sucofindo. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi pengembangan usaha saya. Bahkan, karena dinilai bagus,  pinjaman pun terus ditingkatkan. Jika semula hanya Rp 10 juta sekarang sudah meningkat jadi Rp 60 juta. Saya juga sudah masuk dalam kategori binaan khusus,” katanya. Kini, ia menjadi salah satu penyuplai suku cadang untuk Honda Astra Motor. Saat ini, ia memiliki dua pabrik dengan jumlah karyawan 80 orang.

Mengenai kiatnya membina karyawan, Suyitno menjelaskan, ia selalu menerapkan prinsip kekeluargaan. Karyawan dianggap sebagai bagian dari keluarga besarnya. Ia menyadari, tanpa dukungan karyawan, usahanya tak akan sukses, seperti saat ini. Karena itu, selain memberikan gaji yang sesuai, ia juga melakukan rekreasi bersama secara rutin dan berupaya memenuhi kebutuhan keluarganya, termasuk membantu karyawan untuk bisa memiliki rumah sendiri.

“Sudah beberapa karyawan saya yang telah memiliki rumah. Tentunya, bantuan yang kita berikan disesuaikan dengan produktivitas, loyalitas, dan kinerja karyawan itu sendiri. Tapi, pada hakikatnya, saya punya prinsip kerja ini adalah amanah, karena itu, saya juga harus bisa berbagi dengan karyawan,” paparnya.

 

Rizal Djaafarer: Anggrek, Sebuah Pilihan Hidup

Halaman: 
Penulis :