logo


Agar Anak Tidak Menjadi Homoseksual, Perhatikan 4 Hal Berikut

Ayah harus lebih banyak berperan dan bertanggungjawab

29 Januari 2016 15:01 WIB


JAKARTA, JITUNEWS.COM - Dalam pertumbuhan seorang anak menjadi sebuah pribadi dewasa, identitas gender sendiri sudah mulai terbentuk dari masa kanak-kanak. Sedangkan proses pembelajaran dimulai sejak masa bayi. Menurut Dr. Felix Lengkong, M.A, Psikolog Klinis dan Dosen Universitas Gunadarma Depok, sejak fase ini, anak mulai menginternalisasi informasi tentang nilai-nilai. 

"Pada usia tiga tahun, anak-anak sudah membentuk identitas gendernya dan mengambil stereotype gender yang diperolehnya dari lingkungan sekitar. Ditambahkan lagi pola asuh orang tua atau orang dewasa yang berada di sekitar anak akan semakin memperkuat identitasnya tersebut," ungkap Felix kepada Jitunews.com di Jakarta Barat beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Dr. Felix Lengkong mengatakan, tak hanya masa remaja juga merupakan masa-masa yang rawan. Artinya, dalam masa ini merupakan pembentukan identitas diri dan mereka tengah berada dalam masa mencari tahu jati diri. Ketika mereka masih dalam masa coba-coba dan bertemu dengan lingungan yang salah maka besar kemungkinan mereka akan ikut terbawa dalam proses perkembangan kepribadian dan tingkah laku mereka hingga dewasa.


8 Kota Dunia Dengan Kopinya Yang Terenak

Untuk mencegah benih-benih homoseksualitas pada anak, orangtua harus memperhatikan beberapa hal seperti;

1. Sejak masa bayi dan masa kanak-kanak, orangtua harus membina relasi yang baik dengan anak-anak. Jangan bersifat posesif atau terlalu memanjakan.

2. Orangtua terutama ibu jangan bercinta monyet dengan anak. Istilah cinta monyet sebenarnya berasal dari perilaku ibu monyet terhadap anak monyet. Pada saat dikejar pemburu, ibu monyet akan merangkul anaknya. Rangkulan itu begitu erat sehingga anak itu mati dalam rangkulan. "Nah sosok ibu yang terabaikan dari kasih sayang di masa kanak-kanak cenderung akan melimpahi anak-anaknya dengan kasih sayang berlebihan alias cinta monyet. Akibatnya, kasih sayang terhadap suami terabaikan dan suami terjauhkan dari anak-anak dan dari ibu itu sendiri. Sehingga anak akan mempelajari pola kasih sayang keluarga yang kurang wajar," jelas Felix. Anak harus belajar tentang kasih sayang dari suami-istri yang berkasih sayang.

3. Ayah harus lebih banyak berperan dan bertanggungjawab. Ketidakhadiran ayah di masa pertumbuhan anak akan mengakibatkan rusaknya pembentukan identitas diri anak-anak. Anak pria tidak mempunyai tokoh ideal untuk mengasihi lawan jenis.

4. Hindari pola asuh otoritarian dan pola asuh permisif. Dengan sikap otoritarian, orangtua berkuasa penuh. Sementara pola asuh permisif, anak bertindak semau gue. Sebaliknya, orangtua mesti mempunyai kesamaan pola asuh seperti otoritatif. "Anak boleh diberikan kebebasan, tetapi anak harus terkendali dengan aturan-aturan jelas yang muncul lewat keputusan bersama," tutupnya.

Cokelat Ternyata Cegah Obesitas

Halaman: 
Penulis : Suciati, Agung Rahmadsyah