logo


Pro-Kontra Tentang LGBT

Kasus LGBT merupakan kasus yang menjadi konsen para psikolog, karena sebenarnya LGBT merupakan penyakit menular

28 Januari 2016 18:11 WIB

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Universitas Indonesia (UI) tidak mengakui keabsahan Support Group and Resource Center On Sexuality Studies (SGRC). Ia merupakan kelompok pendukung berbagai masalah sesksual, termasuk lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT).

SGRC sendiri didirikan oleh mahasiswa dan alumni UI sejak 2014 oleh Ferena Debivena. Seperti yang dikutip dari berbagai sumber, Ferena mencoba untuk mengklarifikasi sejumlah ketidakbenaran. Ferena yang berprofesi sebagai penulis dan peneliti mengatakan bahwa gender dan seksualitas adalah isu yang nyaris tidak pernah dijamah. Namun ia berkesempatan menyaksikan kegiatan-kegiatan organisasi tersebut.

Kegiatan SGRC antara lain adalah seminar, penyuluhan, dan pengkajian. Kegiatan-kegiatan tersebut ini diisi oleh figur yang dipanggil karena memiliki kapabilitas, kapasitas akademik yang memadai, atau diakui di bidangnya. Namun, dari isu yang berkembang di media massa maupun media sosial, sangkaan yang muncul adalah lembaga ini menyebarkan orientasi seksual yang tidak sesuai norma yang diterima. Dengan bayangan bahwa salah satu institusi pendidikan terbaik negeri diinfiltrasi paham menyesatkan dan ketakutan bahwa anak-anak kini kian rentan, isu tersebut pun merambat lebih cepat dari isu-isu nasional yang seharusnya lebih mendesak.


8 Kota Dunia Dengan Kopinya Yang Terenak

Penginformasian-penginformasian yang dilakukan tidak memeriksa secara seksama kegiatan organisasi yang menjadi bahan pemberitaan itu sendiri. Semakin memperkeruh situasi, kesalahan pengutipan demi kesalahan pengutipan wawancara terus dilakukan mempersulit untuk berbaik sangka bahwa awak media bersangkutan melakukannya secara tak sengaja. 

Hal yang pantas untuk dilakukan apabila ada pikiran terhadap wacana kegiatan-kegiatan mereka adalah dihaturkan dengan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Kegiatan mereka terlapor dan terekam, sebagaimana yang dilakukan organisasi profesional, sehingga mereka yang berminat mengetahui dan menanggapinya tak perlu mereka reka dari impresi sekilas atau media yang berkepentingan mereproduksi ketakutan untuk memperoleh hits situs yang tinggi.

Apa yang terjadi sekarang jauh dari kondisi yang memungkinkan pertukaran pikiran yang sehat, informasi direproduksi dengan demikian kencang memanfaatkan sentimen ketakutan masyarakat terhadap sesuatu yang asing. Hasilnya adalah pemojokan-pemojokan tak berperasaan, Ferena mengkhawatirkan, justru menimbulkan trauma pada para anggota. Salah satu berita termutakhir yang dilansir disalah satu media online, yang cukup bisa diyakini salah kutip, berbunyi, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UI menyatakan UI akan memerangi perilaku LGBT. (Padahal kutipan langsung pernyataan Wakil Rektor sebelumnya adalah, "Sikap UI, lebih kepada perizinan yang harus dilakukan SGRC." Yang berarti, tidak berusaha menyentuh hajat pribadi dari para sivitas akademika terlibat.

Ketimpangan gender, isu yang sempat diulas pada salah satu acara SGRC, misalnya, adalah perkara sangat serius yang kini justru tak memperoleh perhatian. Terbenam dalam gegap-gempita anggapan-anggapan tak berdasar kampus sedang dalam serbuan ideologi jahat yang siap menyurupi anak-anak muda, sebagaimana isu-isu strategis lainnya antara lain kekerasan domestik yang menjadi fenomena gunung es terselubung, pencegahan kekerasan seksual, dan lain-lain.

Di kesempatan lain dikatakan oleh Psikolog, Assessor pada Konsultan Management di Prima Astha Redana, Dewi Ulfah Arini, MM, mengatakan kasus LGBT merupakan kasus yang menjadi konsen para psikolog, karena sebenarnya LGBT merupakan penyakit menular. Berita tentang LGBT marak diperbincangkan oleh masyarakat luas karena secara gamblang mempromosikan keberadaan mereka. Hal negatif tersebut meresahkan masyarakat akan perkembangan tumbuh kembang anak mereka ke depannya.

Menurut Dewi ketika anak merasa dirinya tidak menemukan kenyamanan lingkungannya, komunitas tersebut datang sebagai penawar bagi si anak. Terkait hal tersebut, Ulfah menjelaskan bahwa anak dengan "sakit sosial" berawal dari pola asuh orang tua yang kurang aware terhadap anak. Perlu adanya perhatian dari orang tua yang lebih aware agar anak tersebut tidak dapat terpengaruh dengan cepat.

Cokelat Ternyata Cegah Obesitas

Halaman: 
Penulis : Suciati, Agung Rahmadsyah