logo


Seperti Apa Rupa Diskriminasi Terhadap LGBT di Indonesia?

Data catatan Komnas Perempuan pada tahun 2014, ada 37 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dialami oleh kelompok LGBT

28 Januari 2016 09:57 WIB

Ilustrasi.(dok.lifequote)
Ilustrasi.(dok.lifequote)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Kaum lesbian, gay, biseksual dan transgender atau LGBT di Indonesia akan menghadapi tantangan secara hukum dan prasangka yang tidak dialami oleh penduduk non-LGBT. Adat istiadat tradisional kurang menyetujui homoseksualitas dan cross dressing, yang berdampak kepada kebijakan publik. Misalnya, pasangan sesama jenis di Indonesia, atau rumah tangga yang dikepalai oleh pasangan sesama jenis, dianggap tidak memenuhi syarat untum mendapatkan perlindungan hukum yang lazim diberikan kepada pasangan lawan jenis yang menikah.

Seperti yang kutip dari berbagai sumber pernyataan sikap Komnas Perempuan menentang segala bentuk diskriminasi yang akan memicu kekerasan pada siapapun. Tak terkecuali pada kelompok LGBT. Data catatan tahunan Komnas Perempuan pada tahun 2014 mencatat ada 37 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dialami oleh kelompok LGBT, terjadi 21 kasus dalam relasi personal atau KDRT (12 diantaranya kasus kekerasan seksual), 15 kasus terjadi di ranah komunitas dan satu kasus pelakuknya negara.

Publik dan media banyak mendengar persoalan yang mereka alami. Bentuk kekerasan yang dicatat Komnas perempuan seperti correcctive rape (perkosaan untuk mengkoreksi), pemaksaan perkawinan, pengusiran oleh keluarga maupun komunitas, diskriminasi dan bullying di lembaga pendidikan yang berakibat terhentinnya akses pendidikan dan pemiskinan, kriminalisasi, diskriminasi layanan publik dan akses keadilan, ancaman bagi pendamping, dan lain-lain.


Para Suami di Jawa Barat Diduga Homoseksual dan Biseksual

Di Indonesia sendiri status waria, transeksual atau transgender lainnya masih sangat kompleks. Crosss dressing terkadang tidak dapat diterima, ilegal dan beberapa toleransi publik diberikan kepada beberapa orang transgender yang bekerja di salon kencatikan atau di industri hiburan, terutama selebriti acara bincang-bincang Dorce Gamalama. Namun, hukum tidak melindungi orang-orang trangender dari diskriminasi atau pelecahan dan juga tidak menyediakan untuk operasi ganti kelamin atau membiarkan kaum transgender untuk mendapatkan dokumen hukum baru setelah mereka telah membuat perubahan.

Diskriminasi, pelecahan, bahkan kekerasan yang ditujukan pada orang-orang trangender tidak jarang terjadi. Orang transgender yang tidak menyembunyikan identitas gender mereka sering merasa sulit untuk mempertahankan pekerjaan yang sah dan dengan demikian sering dipaksa menjadi pelacur dan melakukan kegiatan ilegal lainnya untuk bertahan hidup.

Usung Wayang, Meggie Couture Siap Melenggang di Ajang Fashion Dunia

Halaman: 
Penulis : Suciati, Agung Rahmadsyah