logo


Kenali dan Pahami Tiga Gejala Trauma pada Anak

Untuk membangun trust kepada anak, rumusnya adalah DHA

26 Januari 2016 15:31 WIB


JAKARTA, JITUNEWS.COM - Tidak semua anak menunjukkan perilaku yang sama dalam menghadapi kejadian traumatik seperti melihat langsung atau tidak langsung (dari TV atau Internet) kejadian serangan terorisme pengeboman dan aksi tembak yang terjadi di Thamrin, Jakarta beberapa waktu lalu. 

Menurut Nathanel EJ Sumampauw M,Psi, Psikolog dari Universitas Indonesia, ada yang menunjukkan gejala trauma berupa avoidance, yakni menghindari segala sesuatu yang berkaitan dengan trauma yang si anak alami atau dengar. Misalnya tidak mau melewati jalan di lokasi peladakan. Gejala kedua adalah reexperiencing, atau mengingat-ingat atau mengulang-ulang kejadian yang sudah berlalu, dan ketiga hyper arousal atau ketergugahan fisik yangberlebihan. Misalnya takut mendengar balon meletus atau suara keras.

"Jika anak mengalami perubahan perilaku yang signifikan maka ia harus ditolong profesional. Orangtua yang paling tahu apakah anak mengalami regresi atau kemunduran. Misalnya setelah kejadian, anak yang awalnya tidak mengompol jadi mengompol, tadinya tidak menempel sama orang tua sekarang menempel terus, ada gangguan konsentrasi belajar dan sebagainya," ungkap Nathael kepada Jitunews.com di Jakarta beberapa waktu lalu.


Bolehkah Anak Laki-laki Main Boneka?

Pada sebagian anak gejala bisa sebaliknya, yakni menjadi lebih agresif. Orangtua lah yang paling tahu dan harus mendeteksi secara dini adanya perubahan perilaku anak yang signifikan terkait kejadian traumatik. Tanda-tanda anak sudah terlepas dari trauma adalah anak sudah bisa bermain, bersekolah, bergaul, berinteraksi dengan orangtua seperti kondisi normal. Ini menjadi indikator bahwa ia sudah tahan melampau masa sulit.

Selain menjelaskan tentang peristiwa dan aksi teror pada anak dengan bijak, hal yang tidak kalah penting adalah menanamkan toleransi dan keberagaman pada anak, sehingga ia tidak mudah terpapar paham-paham radikalisme, yang menjadi akar dari aksi terorisme. Biarkan anak mengenal kebaragaman dalam hidup dan tidak mewarisi kebencian kepada mereka yang berbeda, seperti yang dilakukan sebagian orang dewasa. Jauhkan anak dari stereotipe dan pandangan negatif pada orang lain. Hal ini penting karena kelak, anak-anak akan berinteraksi dengan manusia lain dari berbagai kelompok.

Sejak kecil, perbanyak anak untuk kontak dengan anak lain dengan keberagaman ras, agama, bentuk fisik, bahasa, dan lain-lain. Ketika anak menertawakan orang berkulit gelap, botak, keriting misalnya, tunjukkan bahwa banyak pahlawan, atlet, presiden yang juga berkulit gelap, berambut keriting dan sebagainya. Katakan bahwa setiap orang memiliki potensi tanpa melihat latar belakang fisik, agama, dan lain-lain.

"Semua keluarga memiliki nilai masing-masing. Misalnya nilai agama, nilai materialisme, humanisme dan lain-lain. Tetapi bagaimana anak akan berkembang juga sangat dipengaruhi lingkungan. Sekali lagi, kenalkan anak dengan keberagaman, tanpa meninggalkan nilai yang dijunjung di keluarga. Ketika anak tumbuh di lingkungan homogen, ia tidak adakan banyak mengenal keberagaman," lanjut Nathael.

Untuk menghindari efek buruk lingkungan terutama pada remaja, harus terbangun trust antara orangtua dan anak. Ketika trust sudah terbentuk, maka apapun yang didapatkan anak dari lingkungan ia akan sampaikan ke orangtua. "Trust ini susah sekali dibentuk. Orangtua harus memahami bahwa anak remaja itu dunianya lebih kompleks, sehingga biarkan mereka mengambil alih dengan lebih banyak bercerita, ciptakan suasana nyaman, bersahabat dan tidak cepat menghakimi, jangan menjadi orangtua yang sok asik, sok tahu dan jangan pernah menjelekkan anak di depan umum," pungkas Nathael.

Intinya, untuk membangun trust kepada anak, ada rumusnya yaitu DHA.

D: Disiplin. Disiplin sangat penting, tetapi kalalu disiplin saja akan seperti robot sehingga harus ada H (hangat)

H: Hangat. Kehangatan  ibarat oksigen untuk anak berkembang

A: Aktivitas bersama anak dan orangtua.  

5 Manfaat Mengajarkan Anak dengan Metode Montessori

Halaman: 
Penulis : Suciati, Agung Rahmadsyah
 
×
×