logo


300 Hektar Sawah Tadah Hujan di Flores Kekeringan

Sekitar 300 hektar sawah tadahan di Lembor Selatan hingga kini belum dibajak dan terancam gagal tanam

20 Januari 2016 09:17 WIB

Ilustrasi sawah kekeringan (ist)
Ilustrasi sawah kekeringan (ist)

MANGGARAI BARAT, JITUNEWS.COM - Kekeringan panjang yang melanda Kecamatan Lembor Selatan, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur menyebabkan kurang lebih 300 hektar sawah tadah hujan belum dibajak dan tentu saja terancam gagal tanam. Hingga kini, daerah tersebut belum juga turun hujan sehingga sawah mengalami kekeringan hebat.

Nobertus Nabu, petani sawah asal Desa Watu Rambung, Kecamatan Lembor Selatan mengaku, sekitar 300 hektar sawah tadahan di daerahnya hingga kini belum dibajak dan terancam gagal tanam lantaran hujan tak kunjung turun.

"Hujan di wilayah Watu Rambung, Kecamatan Lembor Selatan- Mabar belum ada sehingga air di kali kering. Sawah tadah hujan 300 hektar belum dibajak atau belum diolah untuk ditanami padi," ujar Nobertus kepada wartawan, Selasa (19/1) malam.

Kata dia, bila kekeringan ini tetap berlanjut sampai akhir Januari ini, maka 300 hektar sawah tadah hujan di Desa Watu Rambung terancam gagal tanam karena tidak bisa dikerjakan. Ia memperkirakan jika anomali ini masih bertahan maka petani akan kehilangan 1.500 ton padi dari total lahan sawah tadah hujan 300 hektar tersebut.

"Namun para petani tetap mendoakan agar Tuhan menurunkan berkatnya lewat hujan," harap Nobertus.

Kepala Dinas Pertanian Manggarai Barat Anggalinus Gapul membenarkan kondisi yang dikeluhkan warga Lembor Selatan tersebut. "Kemarin saya ke sana dan memang benar ada 300an hektar lahan sawah tadahan yang terancam gagal tanam," ujar Anggalinus.

Ia mengatakan, kondisi iklim saat ini terasa sangat tidak mendukung kegiatan masyarakat yang menjadi perhatian Dinas Pertanian. Kekeringan yang berkepanjangan, kata dia, tidak saja mengancam sawah tadah hujan, tetapi juga sawah irigasi teknis karena debit air menurun drastis sehingga tidak mampu mengairi areal persawahan.

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Kupang, kata dia, sudah menginformasikan bahwa El Nino yang menyebabkan kemarau panjang ini menguat sampai bulan Februari. Kondisi ini tentu sangat berat dengan kebiasaan musim tanam di Manggarai Raya yang berada pada bulan Desember sampai Januari. Tentu saja stok pangan para petani hampir habis hingga saat ini dan jika musim hujan baru terjadi pada bulan Februari maka diperkirakan akan mengalami kelaparan hebat.

Anggalinus menjelaskan, di areal persawahan Lembor Selatan, sebanyak 300an hektar dari total 1.900an hektar sawah yang mengalami kekeringan. Sementara sawah irigasi teknis di Kecamatan Lembor, baru sekitar 2000an hektar dari 3.582 hektar sawah yang sudah ditanami.

Selanjutnya di Kecamatan Boleng, baru 30% dari 2.479 hektar yang sudah tertanam. Itu pun dengan bantuan sistem pompanisasi. Di persawajan Walang, Kecamatan Komodo baru 30% dari 2.828 hektar sawah yang sudah ditanami. Itu juga berkat sistem pompanisasi. Sementara usia benih sudah mencapai 1,5 bulan.

Khusus untuk areal persawahan irigasi Lembor dan Lembor Selatan, pihaknya menerapkan sistem pengairan bergiliran. Semua lahan di areal yang bisa dijangkau irigasi dialiri air secara bergiliran. Sedangkan pada wilayah lainnya sedang dipikirkan penanganannya.

Siap-Siap Hadapi Kekeringan, Pemkab Banyuwangi Tampung Air Sungai

Halaman: 
Penulis : Adrianus Aba (KR), Vicky Anggriawan