logo


Kisah Dosen Arsitektur yang Sukses Berbisnis Bebek

Sukses Joko tersebut tentunya tidak lepas dari kejeliannya memilih lokasi peternakan

15 Januari 2016 15:46 WIB

Purwanto Joko Slameto. (Foto:Ist)
Purwanto Joko Slameto. (Foto:Ist)

DEPOK, JITUNEWS.COM- Kisah sukses bisnis bebek muda dialami oleh Purwanto Joko Slameto, pria yang berprofesi asli sebagai dosen Jurusan Teknik Arsitektur di Universitas Gunadarma, Depok, Jawa Barat, itu telah menikmati sukses bisnis sambilan bebek muda.

Dari kegemarannya menyantap daging bebek, mendorong pria yang akrab disapa Joko ini mendirikan usaha ternak bebek di bawah bendera usaha Bebek Anugerah Barokah Gede (ABG). Jika disingkat, maka namanya menjadi ABG yang memberikan kesan bahwa bebek yang diternak masih muda.

“Nama ABG juga dipakai untuk menarik perhatian,” kata Joko seraya tersenyum.

Menurut pengakuan Joko, saat mengawali usaha ternak bebek, karena tidak berpengalaman, ia pun memulainya dengan melakukan ujicoba dengan menernakkan bebek lokal. Saat itu, ia melakukan ujicoba sebanyak 50 ekor bebek, dan hanya 30 ekor yang sukses dibesarkan. Namun dari percobaan itu pula, Joko mempelajari banyak hal mengenai budidaya bebek, yang bisa ia jadikan bekal untuk lebih serius beternak bebek.

Joko pun mulai lebih serius, sehingga ia menggelontorkan modal sebesar Rp 1,5 juta untuk membeli sebanyak 200 ekor bebek muda dari daerah Solo. Dengan memanfaatkan lahan seluas 100 m2 yang merupakan lahan tidak terpakai miliknya di Boyolali, ia menjalankan peternakan sembari mempelajari sistem usaha yang akan dikembangkan dan membangun jaringan untuk pemasaran. Ia mengawinkan indukan bebek dengan perbandingan jantan dan betina 1:5.

“Hasil bebek dari ternak kedua lumayan dengan tingkat kematiannya lebih kecil dibandingkan sebelumnya,” kata Joko.

Sukses Joko tersebut tentunya tidak lepas dari kejeliannya memilih lokasi peternakan. Desa Mojo, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, dikenal sebagai sentra penetasan itik. Di desa itu seorang penetas mampu menetaskan 4.000-5.000 DOD per hari. Kemungkinan munculnya jantan hampir 50%. Namun, selama ini DOD jantan kerap dianaktirikan. Penetas lebih menyukai DOD betina karena lebih laku dijual sebagai calon induk di peternakan itik penghasil telur. Pantas harga DOD jantan jauh lebih murah ketimbang betina.

Kunci sukses Joko lainnya adalah memperkenalkan penjualan itik jantan muda dalam bentuk karkas. Ya, di tahun kedua usaha, Joko mulai mengembangkan bebek potong (karkas) dengan target dapat menyuplai bebek ke beberapa restoran yang menyediakan menu bebek di daerah Solo dan Yogyakarta. Lambat laun, usahanya berkembang dan pemasarannya merambah ke Surabaya pada tahun 2007.

Di Kota Pahlawan itu, Joko mengetahui bahwa permintaan bebek hidup dan bebek ungkep (prasaji) cukup tinggi. Meski tingkat persaingannya juga cukup tinggi karena banyak peternak bebek dari daerah juga sudah banyak, Joko juga mengaku ikut meramaikan persaingan itu.

Tidak puas hanya bisa mengembangkan di Surabaya, Joko pun mencoba ekspansi usaha bebeknya, khususnya bebek potong maupun bebek ungkep ke Jakarta. Untuk memulai usahanya di Jakarta, Joko pun mensurvei restoran-restoran yang menghidangkan bebek. Agar bisa lebih memasok untuk kebutuhan restoran, tahun 2008 Joko membuka sistem kemitraan. Sistem kemitraan yang ditawarkan Joko adalah dengan memberikan modal berupa bibit (DOD) yang mendapatkan potongan harga.

“Setiap mitra saya pandu mulai dari pemilihan lahan, pembuatan kandang, pemeliharan, sampai jual,” ujar Joko.

Lulusan Universitas Bina Nusantara ini menyampaikan pesannya bagi yang tertarik menekuni usaha beternak bebek untuk terus menjaga hubungan baik dengan pelanggan. Menurutnya, dari usaha beternak bebek ini juga bisa dikembangkan ke usaha kuliner.

Wow, Ternyata Anjing Dapat Mengendus Kanker Lho!

Halaman: 
Penulis : Riana