logo


Awas! Sering Membunyikan Leher dan Pinggang bisa Menyebabkan Kematian

Bunyi krrkkk menunjukkan bahwa telah terjadi manipulasi pergerakan sendi secara berlebihan

15 Januari 2016 14:33 WIB


JAKARTA, JITUNEWS.COM - Jika tulang leher patah, retak atau dislokasi, maka tulang leher menjadi tidak stabil dan membuat sumsum tulang (medulla spinalis) di dalamnya tercederai. Sumsum tulang merupakan kumpulan semua saraf pusat dari  atau menuju otak dan dari ke organ tubuh di bawah leher. Kita masih ingat saat bintang film “Superman”, Christopher Reeve, mengalami patah tulang leher akibat jatuh saat berkuda, dia mengalami henti nafas sehingga harus dipasang mesin bantu nafas portable seumur hidupnya, dan akhirnya’ dengan teknologi perawatan canggih dan biaya yang sangat mahal pun, sang Superman tidak mampu bertahan dan meninggal juga. 

Menurut DR. dr. Wawan Mulyawan, SpBS, SpKP, dokter spesialis bedah syaraf, biasanya selain berhentinya nafas, gangguan akibat cederanya sumsum tulang belakang di daerah leher juga mengakibatkan kelumpuhan tangan dan kaki, ketidak mampuan buang air besar dan buang air kecil, dan terganggunya fungsi organ-organ lain dibawah leher. Hanya jantung yang mungkin masih bertahan (itu pun jika menggunakan obat-obatan pemacu jantung terus menerus dan paru-paru diberi pernafasan mekanis ventilator), walaupun saraf yang dari sumsum tulang belakang sudah mati. Ini yang biasanya disebut mati batang otak (brain death).

"Selain itu juga , akibat retaknya tulang belakang leher dapat menyebabkan robeknya pembuluh darah arteri vertebralis (kiri dan kanan) yang ada di dalam tulang belakang leher yang memasok darah untuk otak bagian belakang. Jika pasokan hilang akibat kedua pembuluh darah robek, maka bisa menyebabkan kerusakan otak, pingsan, henti nafas dan kemudian meninggal," jelas Wawan kepada Jitunews.com melalui pesan elektronik.


Sering Dinilai Buruk, Tidur Larut Malam dan Bangun Siang Punya Manfaat Baik

Mengapa kita tidak boleh menggerakkan leher secara berlebihan?

Tentu saja bahayanya yang paling fatal adalah menyebabkan kematian. Terutama bukan karena akan memotong atau menyumbat trakea mau pun merobek pembuluh darah karotis. Tetapi mematahkan, meretakkan dan mendislokasikan tulang leher yang akibatnya bisa mematikan. Yang tersering adalah bukan patah, tetapi dislokasi atau melejitnya sendi yang menghubungkan antar tulang leher. 

"Ada tujuh ruas tulang leher dan masing-masing ruas dihubungkan oleh dua macam sendi yaitu bantalan tulang (diskus) dan sendi penyangga kiri dan kanan (prosesus artikularis superior dan prosesus artikukaris inferor, atau disebut juga facet). Jika tulang dan sendinya melejit, maka hubungan persendian leher dan ruas tulang lehernya menjadi tidak stabil dan akan mencederai sumsum tulang belakang di dalamnya dan selanjutnya terjadilah kejadian fatal yang bisa sampai menimbulkan kematian. Apalagi jika tulang leher sampai patah, tentu instabilitas itu menjadi lebih parah lagi dan bisa menimbulkan kematian yang lebih cepat lagi. Apalagi jika diitambah lagi robeknya pembuluh darah arteri vertebralis akibat tergores tulang leher yang patah itu," lanjut Wawan.

Bunyi “krrkkk” menunjukkan bahwa telah terjadi manipulasi pergerakan sendi secara berlebihan. Namun sebetulnya, dengan makin seringnya di”krrkkk”kan lehernya, maka sendi lehernya bisa makin lemah dan dapat menyebabkan instabilitas tulang leher di kemudian hari yang bisa menyebabkan nyeri leher kronis yang sering timbul ketika usia makin menua.

"Sedangkan pada kasus yang menimpa almarhum Allya, tampaknya pergerakan sendi-sendi leher yang berlebihan yang dilakukan terapisnya juga diikuti dengan dislokasi tulang dan sendi leher nya atau bahkan mungkin terjadi retakan tulang belakang leher. Jadi, jika demikian, sangat disarankan untuk tidak lagi menggerakkan leher secara berlebihan, baik oleh diri sendiri atau teman anda, tukang cukur, tukang urut, bahkan oleh orang yang mengaku professional dan mempunyai sertifikat khusus dalam “krrkk” meng”krrkkk”kan itu. Jika anda mempunyai masalah dengan nyeri leher, nyeri punggung, atau nyeri pinggang, apa pun penyebabnya (kaku otot, saraf terjepit, skolisos, kifiosis, dan lain-lain) datanglah ke ahli yang profesional, yang terdidik di rumah sakit pendidikan kedokteran, seperti spesialis saraf, spesialis bedah sarah, spesialis ortopedi, spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi. Bahkan tidak ada salahnya juga jika datang ke dokter umum atau fisioterapis, bukan ke yang lain," pungkasnya.

Jangan Buru-buru Dibuang, Ini Manfaat Kulit Pisang yang Jarang Diketahui

Halaman: 
Penulis : Suciati, Agung Rahmadsyah