logo


ABK Myanmar Korban Human Trafficking Bakal Diberi Upah

ABK tersebut sudah bertahun-tahun tidak dibayar

14 Januari 2016 14:34 WIB

Sejumlah Anak Buah Kapal (ABK) WN Myanmar, Laos dan Kamboja yang bekerja di PT. PBR Benjina tiba di PPN Tual, Maluku, 4 April 2015. (Humas Kementrian KKP)
Sejumlah Anak Buah Kapal (ABK) WN Myanmar, Laos dan Kamboja yang bekerja di PT. PBR Benjina tiba di PPN Tual, Maluku, 4 April 2015. (Humas Kementrian KKP)

AMBON, JITUNEWS.COM- Lebih dari 20 Anak Buah Kapal (ABK) berkewarganegaraan Myanmar berkumpul di aula Pelabuhan Perikanan Ambon untuk dipenuhi haknya. ABK asing tersebut merupakan korban human trafficking yang sudah bertahun-tahun bekerja di kapal-kapal Indonesia tanpa dibayar. 

Sebelum diberi upah oleh perusahaan, para ABK harus diverifikasi terkait lama waktu bekerja, jabatan atau posisi kerja dan jumlah kapal yang pernah diikuti tapi belum dibayar.

Kepala Pelabuhan Perikanan Ambon, Cholik Syahid, mengatakan, besaran upah ABK per bulannya berbeda-beda tergantung jabatannya di atas kapal. Upah mereka pun dibayar dengan rupiah. "Kalau foreman itu 10 ribu bath (mata uang Myanmar) Kalau koki itu 12 ribu bath. Jadi, pembayarannya harus dikurskan dalam rupiah. Jadi dianggap 1 bath itu Rp.390," ujarnya, Kamis (14/1), di Ambon.


Mendag: Tidak Ada Alasan Harga Pangan Naik!

Lanjut Cholik, proses verifikasi bisa sangat alot. Hal ini dikarenakan perusahaan tempat mereka bekerja terlalu lama melakukan negosiasi. Alhasil, titik kesepakatan pun tidak ditemukan. "Sehingga verifikasi harus ditunda dan dilanjutkan kembali di hari berikutnya," tukasnya.

Tiga Pilar Utama Pemerintah Sukseskan Upaya Perang Melawan IUU Fishing

Halaman: 
Penulis : Puput Indah Lestari, Christophorus Aji Saputro