logo


Sekilas Tentang Evolusi Bentuk Obat Herbal Nusantara

Obat herbal cair biasanya diberi perisai sehingga rasanya bisa lebih nikmat

14 Januari 2016 10:43 WIB


JAKARTA, JITUNEWS.COM – Sebagai negara agraris, Indonesia dianugerahi beragam tanaman herbal atau obat-obatan yang berkhasiat menyegarkan badan bahkan ampuh mengobati berbagai penyakit, baik berat maupun ringan.

Sebagian masyarakat secara turun temurun terbiasa meracik berbagai tanaman tersebut sebagai pengobatan alternatif warisan nenek moyang. Di sektor farmasi pun tak mau kalah, tanaman obat asli Indonesia pun ramai-ramai diracik untuk dikomersilkan.

Seiring perkembangan zaman, tenyata obat herbal Indonesia telah mengalami banyak perubahan dalam hal bentuk sehingga semakin nikmat ketika dikonsumsi. Pada dekade 1980-an booming obat herbal berbentuk puyer yang berasa sangat pahit ketika menyentuh lidah. Namun, memasuki tahun 2000-an produsen obat herbal membungkus serbuk dalam kapsul berbahan gelatin.

Permukaan kapsul yang licin memudahkan penderita menelannya. Kendati aman bagi kesehatan, kapsul gelatin memerlukan waktu lebih lama untuk terserap dalam tubuh, sekitar 15 menit sebelum ektrak herbal terserap dalam tubuh.

Tanaman yang diramu menjadi obat herbal bervariasi mulai dari daun poko, gingseng, jahe, temulawak, asiri, daun mint, sereh, akar-akaran, beras kencur, kayu manis dan lain sebagainya sebagian besar mudah ditemukan dipelosok Nusantara. Belakangan produsen obat herbal kembali berinovasi dengan membuat produk herbal cair.

Bagi sebagian besar penyuka obat herbal, hadirnya herbal cair bak angin segar, karena ekstrak yang dihasilkan lebih cepat terserap tubuh. Selain itu kelebihan lainnya adalah praktis, enak dan lebih cepat bereaksi.

Ekstrak yang dihasilkan herbal cair biasanya bisa lebih nikmat daripada bahan baku aslinya. Herbalis dari Batu Jawa Timur, Wahyu Suprapto, mencontohkan rasa dan aroma ekstrak beras kencur lebih nikmat ketimbang bahan bakunya.

“Untuk membuat obat herbal cair, serbuk ekstrak diberi bahan tambahan untuk menurunkan dosisnya lalu dilarutkan dalam pelarut air sehingga rasanya agak berbeda dengan abahn baku asli,” paparnya.

Menurut Prof Dr Sumali Wiryowidagdo MSi Apt, farmolog di Pusat Studi Obat Alam Universitas Indonesia, obat herbal cair biasanya diberi perisai sehingga rasanya bisa lebih nikmat. Perisai ada dua jenis, sekedar penambah rasa tanpa khasiat dan yang mempunyai khasiat.

“Perisai berkhasiat antara lain seperti daun poko, Mintha Piperita, yang mempunyai efek melegakan hidung dan tenggorokan,” jelas Prof Sumali.


'Sejuta' Manfaat Tersembunyi Daun Sirsak untuk Kesehatan Tubuh

Halaman: 
Penulis : Aditya Kurniawan, Riana