logo


Bangun PLTU 600 MW, Bukit Asam Gelontorkan Dana US$ 840 Juta

Pada tahap pertama, PT Bukit Asam akan membangun pembangkit listrik dengan kapasitas 2x40 MW.

11 Januari 2016 16:06 WIB

ISTIMEWA
ISTIMEWA

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Rencana PT Tambang Batu Bara Bukit Asam/PTBA (Persero) Tbk yang akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas hingga 600 Mega Watt (MW) di proyek Feronikel Halmahera Timur (FHT), Maluku, milik PT Aneka Tambang/Antam (Persero) Tbk akan menghabiskan nilai investasi sekitar US$ 720-840 juta.

Direktur Utama PTBA, Milawarma mengungkapkan, pihaknya akan membangun pembangkit listrik dengan kapasitas 2x40 MW pada tahap pertama. Selanjutnya, kapasitas tersebut akan ditambah sesuai dengan kebutuhan hingga mencapai 600 MW.

Menurutnya, pembangunan pembangkit listrik tahap pertama harus selesai seiring dengan proyeksi rampungnya pabrik FHT pada akhir 2018 mendatang. “Biaya investasi sebetulnya masih dihitung, namun perkiraannya sekitar US$ 1,2-1,4 juta per MW. Soal pendanaan nanti bisa dicari bersama,” ungkap Milawarma kepada wartawan baru-baru ini di Jakarta.


Elpiji 3 Kg Sempat Langka, Agen: Tapi Tak Begitu Parah

Dengan kapasitas hingga 600 MW, Milawarma menyebutkan, kebutuhan pasokan batu bara terhadap pembangkit listrik tersebut mencapai tiga juta ton. Untuk itu, PTBA akan mengambil pasokan dari tambang batu bara miliknya yang berada di Kalimantan Timur.

Sementara itu, Direktur Utama Antam Tedy Badrujaman mengatakan, pabrik FHT akan memiliki kapasitas produksi 13.500-15.000 TNi per tahun. Setelah pabrik tersebut selesai dibangun, maka sesuai rencana, Antam akan mengembangkan produk stainless steel. Kemudian, kapasitas produksi pabrik pun akan ditingkatkan hingga menjadi 40.000 TNi per tahun.

Selama ini, menurut Tedy, pihaknya selalu menanggung sendiri kebutuhan pasokan listrik, seperti pada Proyek Perluasan Pabrik Feronikel Pomalaa (P3FP). Dengan demikian, kerja sama dengan PTBA tersebut dirasa cukup menguntungkan.

“Saat ini merupakan momen bersejarah bagi Antam, karena tidak perlu lagi memikirkan kebutuhan listrik untuk pabrik baru. Kami bisa fokus membangun pabriknya saja,” jelas dia.

Terkait kerja sama tersebut, Tedy melanjutkan, pihaknya bersama PTBA akan terlebih dahulu mematangkan feasibility study. Selain dengan tenaga batu bara, power plant tersebut kemungkinan juga bisa menggunakan tenaga gas ataupun kombinasi keduanya. Porsi pendanaan akan disesuaikan dengan kondisi keuangan Antam dan PTBA.

Oleh karena itu, Tedy menambahkan, pihaknya berharap bank BUMN dalam negeri dapat turut terlibat. Sebab, pada dasarnya kerja sama ini merupakan bentuk sinergi antara BUMN.

Harga Turun, Permintaan BBM di Bali Meningkat Tajam

Halaman: 
Penulis : Deni Muhtarudin