logo


Utang Negara Meningkat, Pertumbuhan Ekonomi Malah Loyo

Utang naik sekian persen lebih malah pertumbuhannya di bawah 10 persen

7 Januari 2016 15:43 WIB


JAKARTA, JITUNEWS.COM - Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati mengatakan, kalkulasi utang negara tidak hanya dilihat dari jumlahnya saja, tapi juga dikalkulasi apakah produktif atau meningkatkan penerimaan negara atau tidak.

"Indikasi utama kita tambah utang tekornya meningkat. Sehingga, defisit keseimbangan primer meningkat," ujar Enny, di Jakarta, Kamis (7/1).

Produktif atau tidak, Enny melanjutkan, hal tersebut tidak sebanding dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Penerimaan negara pada 2012 sekitar Rp 982 triliun, sekarang pertumbuhannya mencapai Rp 1.005 triliun. Tumbuhnya tidak ada di bawah 10 persen.

"Utang naik sekian persen lebih pertumbuhannya di bawah 10 persen. Kalau tidak beres persoalannya, membayar utang yang harusnya tidak menimbulkan risiko-risiko," ucapnya.

Belajar dari Yunani dan Puertoriko dalam menghadapi default, kata Enny, hal tersebut salah manajemen. Seperti Amerika dan Jepang, utang di atas 100 persen tidak ada masalah dan menjadi leading.

"Tapi acuannya bukan rasio utang yang masih rendah, tapi pengelolaannya produktif atau tidak. Ditambah lagi sejak 2012, keseimbangan primer makin defisit bukannya mengecil, tapi malah meningkat," ungkapnya.

Artinya, Enny menambahkan, ketika penerimaan pajak sudah melampaui Rp 1.000 triliun, tapi ada persoalan lain dimana keseimbangan primer Indonesia defisitnya meningkat.

"Tambahan Rp 500 triliun untuk belanja, tapi alih-alih untuk turunkan defisit keseimbangan primer malah tekor (meningkat)," tuturnya.

Demokrat Minta Pemerintahan Jokowi Berkaca pada Situasi Venezuela

Halaman: 
Penulis : Rachmad Faisal Harahap, Vicky Anggriawan