logo


PDI Perjuangan Beri Rapor Merah Kinerja Ekonomi Pemerintah Jokowi

Hendrawan memberi penilaian C+ pada pencapaian pembangunan ekonomi Pemerintah Jokowi-JK

7 Januari 2016 14:15 WIB

Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Hendrawan Supratikno. (Foto: ist)
Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Hendrawan Supratikno. (Foto: ist)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pemerintah baru saja mengumumkan realisasi pelaksanaan APBN-P 2015, yang merupakan anggaran pertama pemerintahan Presiden Jokowi.

Realisasi APBN-P 2015 pun mencatatkan belanja negara sebesar Rp 1.810 triliun dengan belanja modal mencapai Rp 213 triliun, tumbuh 45 persen dari realisasi tahun 2014. Penerimaan perpajakan mencapai Rp 1.235,8 triliun, sehingga defisit tercipta 2,8 persen atau di bawah ketentuan UU Keuangan Negara sebesar 3 persen.

Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Hendrawan Supratikno mengatakan, dari tujuh indikator asumsi yang disepakati dalam APBN, empat indikator menunjukkan nilai merah. Hanya tiga yang capaiannya bagus. Tiga indikator tersebut adalah inflasi yang diasumsikan 5 persen dicapai lebih rendah yaitu 3,35 persen, suku bunga SPN 3 bulan yang ditargetkan 6,2 persen bisa dicapai 5,9 persen, dan harga minyak dunia dari asumsi US$ 60 per barel menjadi US$ 50 per barel.


Dunia Usaha Harus Proaktif Dukung Swasembada Pangan

"Saya memberi penilaian C+ pada pencapaian pembangunan ekonomi Pemerintah Jokowi-JK di tahun 2015," ujar Hendrawan, dalam acara Diskusi Membedah Realisasi APBN-P 2015, di Kedai Tjikini, Jakarta Pusat, Kamis (7/1).

Yang masih mendapat rapor merah adalah pertumbuhan ekonomi yang diasumsikan 5,7 persen hanya dicapai sekitar 4,75 persen. Lalu, nilai tukar Rupiah diasumsikan Rp 12.500 per US$, realisasinya hingga sekarang Rp 13.900 per US$.

"Inflasi kita anggap bagus. Artinya daya beli masyarakat bisa dipelihara, SPN 3 bulan bagus karena opportunity cost dalam berbisnis lebih rendah. Begitu juga harga minyak itu positif karena kita masih jadi nett importer minyak," ucapnya.

Lifting minyak diasumsikan 825 ribu barel per hari, ternyata hanya tercapai 780 ribu BPH. Terakhir lifting gas yang ditargetkan 2.221 ribu barel per hari setara minyak tercapai 1.195 ribu BPH setara minyak.

"Kalau kita lihat indikator-indikator ini nilainya dalam perekonomian C+. Ya masih lulus sih meskipun tidak puas," ungkapnya.

Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, prestasi Indonesia tidak buruk. "Dibandingkan Tiongkok yang sebelumnya selalu mencatat pertumbuhan dua digit, saat ini hanya sekitar 6,1 persen," tuturnya.

Tahun Depan, Pemerintah Bangun 47 Pembangkit Diesel

Halaman: 
Penulis : Rachmad Faisal Harahap, Vicky Anggriawan