logo


Apa Yang Melatarbelakangi Lahirnya Hari Ibu di Indonesia?

Hari Ibu lahir guna mengenang perjuangan para pahlawan wanita Indonesia abad ke-19

22 Desember 2015 12:44 WIB


JAKARTA, JITUNEWS.COM - Hari ini adalah hari dimana para wanita, khususnya kaum ibu, di Indonesia boleh berbahagia. Bukan lantaran hari-hari lainnya tidak patut untuk berbahagia namun karena pada tanggal ini, 22 Desember, 56 tahun yang lalu, Bung Karno mendeklarasikan hari untuk mengenang semangat para pahlawan perempuan.

Penetapan Hari Ibu ini diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain. Selain itu, Hari Ibu juga merupakan saat dimana kita mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. 

Peringatan Hari Ibu diawali dari berkumpulnya para pejuang perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra dan mengadakan Konggres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Salah satu hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Namun penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Bahkan, Presiden Soekarno menetapkan tanggal 22 Desember ini sebagai Hari Ibu melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959.


Unik! Negara Ini Gunakan Miras untuk Cuci Tangan di Tengah Pandemi Corona

Menilik sejarah lahirnya hari ibu yang sarat akan unsur heroik, hal apakah yang bisa kita lakukan dalam memeringatinya saat ini? Sebenarnya cara sederhana untuk mengungkapkan rasa sayang dengan meringankan bebannya sudah cukup untuk memeringatinya atau bisa juga dengan memberikan persembahan yang istimewa pada hari ini. 

Namun kita juga tidak boleh lupa bahwa saat ini juga masih ada pejuang-pejuang wanita yang patut diapresiasi dan dikawal seperti Suciwati Munir, Aleta Baun, Sumarsih, para perempuan di kawasan Gunung Kendeng, dan wanita-wanita tangguh lain yang masih berjuang di (dan demi) Indonesia.

Ingin Kulit Tetap Lembap Selama Berpuasa? Lakukan Hal Ini

Halaman: 
Penulis : Agung Rahmadsyah