logo


CEO Rio Tinto: Perusahaan yang Andalkan Bijih Besi Bakal Ambruk!

Harga bijih besi di pasar global mencapai titik terendah dibanding tahun 2009, yakni di kisaran $ 39 per metrik ton

15 Desember 2015 16:14 WIB

Rio Tinto Sam Walsh. (Foto: Istimewa)
Rio Tinto Sam Walsh. (Foto: Istimewa)

The fall of the iron ore prices in the global markets has triggered the producers to trim the budget so that mining companies can run. This was conveyed by Sam Walsh, CEO of Rio Tinto on the sidelines of an interview with Bloomberg TV. "There are many producers that I believe will leave the market because they only rely on sales," said Sam Walsh. In fact, Sam Walsh continued, many mining companies had cut the shareholders’ cash.

LONDON, JITUNEWS.COM
- Runtuhnya harga bijih besi di pasar global memicu produsen untuk memangkas anggaran agar perusahaan pertambangan dapat berjalan. Hal ini disampaikan CEO Rio Tinto Sam Walsh di sela-sela wawancara bersama Bloomberg TV. 

"Ada banyak produsen yang saya percaya akan meninggalkan pasar yang hanya mengantungkan dari penjualan saja," papar Sam Walsh. 

Bahkan, lanjut Sam Walsh, banyak perusahaan tambang memangkas kas para pemegang saham. 


Antisipasi Pemilu, Pertamina Bentuk Satgas

Harga yang terus turun ini diakui perusahaan tambang terbesar kedua di dunia, Rio Tinto, sebagai sebuah rekor yang dialami juga oleh perusahaan tambang lainnya, Vale SA dan BHP Billiton Ltd. 

Harga Bijih besi terus turun menyentuh angka $ 39 per metrik ton pekan lalu, yang menjadi rekor terendah sejak tahun 2009 silam. Walaupun di 2011 pernah mencapai angka $ 190, namun saat itu permintaan China meningkat di pasaran. 

"Saya menduga sekarang, dengan harga $ 39 per ton, ada orang-orang yang menderita," kata Walsh. "Cepat atau lambat penyesuaian akan berlangsung."

Kemerosotan harga ini telah menyakiti para pemegang saham. Saham Rio kehilangan 28 persen di bursa Sidney tahun ini, jatuh di angka $ 40,39 pada 9 Desember 2015, harga terendah sejak 2009. Sedangkan BHP jatuh sebanyak 40 persen dan Vale juga turun 49 persen.

Rio Tinto dan para pesaingnya banyak dikritik oleh para analis, pesaing dan pemerintah atas strategi perluasan tambang dengan biaya yang lebih rendah di saat harga sedang jatuh dan ditambah meningkatnya produksi bijih besi secara global. 

Menanggapi pernyataan itu, Sam Walsh mengatakan bahwa hal itu sangat normal bagi perusahaan untuk mempertimbangkan pemotongan pasokan. Mengingat, Rio Tinto adalah perusahaan tambang dengan menerapkan produksi berbiaya murah. 

CEO Cliffs Natural Resources Inc, produsen bijih besi terbesar di AS, Lourenco Goncalves mengatakan bahwa Rio dan BHP berada di "dunia imajiner" karena strategi mereka sendiri. 

"Harga di bawah $ 50 sangat tidak nyaman bagi siapa pun," pungkas  Goncalves.

 

|Bloomberg|

Wamendag Ngotot Soal Sustainable Palm Oil di Parlemen Eropa

Halaman: 
Penulis : Tommy Ismaya