logo


Lumajang Dikuasai 'Musuh', TNI AU Gelar Operasi Serangan Udara Strategis (OSUS)

Uji doktrin merupakan sarana evaluasi kegiatan operasi TNI AU sepanjang tahun

4 Desember 2015 17:22 WIB

Serangan udara oleh pesawat Sukhoi TNI AU dalam pelaksanaan uji doktrin operasi udara tahun 2015 di kawasan Air Weapon Range (AWR) Pandanwangi, Lumajang, JawaTimur, Kamis (3/12). (Dispen AU)
Serangan udara oleh pesawat Sukhoi TNI AU dalam pelaksanaan uji doktrin operasi udara tahun 2015 di kawasan Air Weapon Range (AWR) Pandanwangi, Lumajang, JawaTimur, Kamis (3/12). (Dispen AU)

LUMAJANG, JITUNEWS.COM - Dalam upaya meningkatkan daya tempurnya (combat capability), TNI AU kembali melaksanakan uji doktrin operasi udara tahun 2015. Uji doktrin merupakan sarana evaluasi kegiatan operasi TNI AU sepanjang tahun, dilaksanakan dalam bentuk Operasi Serangan Udara Strategis (OSUS), di kawasan Air Weapon Range (AWR) Pandanwangi, Lumajang, JawaTimur, Kamis (3/12).

Sebanyak dua puluh empat pesawat tempur dan sejumlah pesawat angkut, intai serta helikopter dikerahkan dalam latihan ini. AWR Pandanwangi, yang disimulasikan sebagai wilayah yang sudah dikuasai “musuh” menjadi target pesawat-pesawat tempur TNI AU untuk direbut kembali.

Proses perebutan, dilaksanakan melalui operasi udara, yang diawali dengan pengintaian udara strategis oleh pesawat Boeing 707, dilanjutkan dengan penerjunan pasukan pengendali tempur (Dalpur) Paskhas.  


Pesan KASAU Saat Melantik 230 Perwira Setukpa Angkatan 21

Asisten Operasi (Asops) Kasau Marsekal Muda (Marsda) TNI Barhim, disela-sela peninjauan latihan di Pandanwangi kepada media mengatakan, latihan uji doktrin TNI AU kali ini tujuan akhirnya adalah untuk membentuk postur TNI AU yang profesional. 

"Dengan adanya kegiatan uji doktrin ini, kita bisa mengevaluasi, bagaimana kekuatan kita, bagaimana kemampuan kita dan bagaimana pola gelar TNI AU dihadapkan dengan perkembangan lingkungan strategis yang ada saat ini,” kata AsopsKasau.

Ditambahkan, bicara tentang postur TNI AU, maka akan terkait dengan tiga hal yaitu aspek kekuatan, kemampuan dan pola gelar TNI AU. Dari pengembangan tiga komponen postur angkatan udara ini, akan dapat daya tempur, (combat capability), yaitu perpaduan antara kemampuan fisik dan non fisik.

Pada hari pelaksanaan OSUS, yang diawali dengan serangan udara oleh satu flight Sukhoi Su-27/30 menggunakan roket S-8 Com, caliber 80 mm. Sebanyak 160 roket, di tembakkan dari pesawat buatan Rusia itu, serangan ini bertujuan untuk melemahkan sistem pertahanan udara musuh (radar dan PSU).

Setelah sistem Hanud musuh lumpuh, berikutnya adalah melaksanakan penghancuran terhadap semua sasaran di darat yang dilaksanakan oleh pesawat-pesawat striker yang diperankan oleh empat pesawat Su-27/30 dan empat pesawat T-50i Golden Eagle.  Kedelapan pesawat ini menjatuhkan tiga puluh dua bom jenis MK-82 dan OVAB. 

Penghancuran sasaran darat oleh Sweeper tidak mudah, karena pesawat-pesawat “musuh” (Hawk 10/200) melaksanakan gangguan melalui kegiatan Combat Air Patrol (CAP). Untuk melawan CAP “musuh”, TNI AU mengerahkan satu flight pesawat sweeper dan satu flight pesawat escort. Sweeper yang diperankan oleh empat pesawat F-16, bertugas menghancurkan pesawat-pesawat musuh yang ada di udara. Sementara escort yang diperankan oleh tiga F-16 dan tiga Hawk 100/200 bertugas menjaga agar Striker dapat melaksanakan misi dengan baik.   

Dalam kegiatan ini juga disimulasikan kegiatan Combat SAR oleh tiga helicopter SA-330 Super Puma.  Kegiatan ini merupakan simulasi pertolongan terhadap pilot yang eject karena pesawatnya tertembak ‘musuh”. Untuk memperkuat pasukan kawan, satu flight pesawat tempur taktis Super Tucano melaksanakan serangan udara langsung dengan menggunakan bom MK-81. Babak akhir, di lakukan penerjunan 172 prajurit Paskhas dari batalyon Komando 461 Wing 1 paskhas.

Penerjunan ini bertujuan, untuk menguasai dan mengperasionalkan kembali pangkalan udara, sehingga dapat digunakan untuk mendukung operasi lanjutan. 

|Penum TNI|

Ada Apa dengan TNI?

Halaman: 
Penulis : Tommy Ismaya