logo


Pendeteksi Kandungan Formalin Super Cepat, Antilin Namanya

Sekali tetes, bahan makanan yang mengandung formalin bisa langsung terdeteksi

3 Desember 2015 16:27 WIB

Ilustrasi pemeriksaan adanya kandungan formalin. (Ist)
Ilustrasi pemeriksaan adanya kandungan formalin. (Ist)

MEDAN, JITUNEWS.COM- Sejumlah peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP), menemukan paket untuk menguji keberadaan zat berbahaya formalin pada hasil laut seperti ikan, cumi, serta bahan pangan lainnya. Paket penguji ini dinamakan antilin.  

"Paket uji ini dibuat sangat sederhana, tidak membutuhkan bantuan peralatan canggih, hanya berupa gelas-gelas dan pipet," kata peneliti Balitbang KP, Jovita Tri Murtini, di Belawan, Medan, Sumatra Utara (Sumut).

Dijelaskan Jovita, proses pengujian dengan alat ini tergolong cepat, hanya memakan sekitar 10-15 menit. Caranya, dengan meneteskan cairan antilin pada bahan pangan yang sedang diteliti. Setelah diteteskan, maka sudah bisa diketahui apakah suatu bahan pangan mengandung formalin atau tidak.


Ganjar Pranowo Akan Coba Aplikasi Nelayan Pintar

"Bahan pangan yang dicurigai diberi formalin itu dicincang dan direndam dalam 20 mililiter air panas, lalu diteteskan antilin. Tunggu sebentar, akan terjadi perubahan warna. Jika berubah jadi ungu berarti positif, sedangkan yang tetap bening berarti negatif formalin," tuturnya.

Antilin pun telah dipatenkan dan dapat digunakan sebagai alat pendeteksi awal keberadaan formalin pada bahan pangan seperti ikan, cumi, daging ayam, sapi, dan lainnya sebelum diteliti kadarnya di lab dengan peralatan uji lengkap.

Seperti diketahui, formalin adalah senyawa kimia formaldehid (HCHO) yang biasa digunakan sebagai pengawet, desinfektan, pewarnaan, penggunaan di industri plastik, kertas, papan partikel, karet, kosmetik, lem, fungisida, peralatan rumah tangga, dan lain-lain yang berbahaya digunakan untuk pangan.

Formalin, lanjut Jovita, bisa menyebabkan mual, pusing, muntah, iritasi lambung, iritasi mata, radang selaput mata, batuk-batuk, radang selaput lendir, kanker saluran pernapasan, pembengkakan paru, radang paru, kerusakan ginjal, kerusakan hati, kerusakan pankreas, gangguan syaraf, hingga kerusakan otak.

Formalin yang sering digunakan untuk mencegah hasil laut menjadi busuk, termasuk zat yang dilarang sebagai bahan tambahan makanan dalam permenkes 1168 tahun 1999 bersama dengan berbagai zat lainnya seperti, asam borat (boraks), asam salisilat, kalsium klorat, kalium bromat, dulsin dan lain-lain.

(antara) 

Mahasiswa IPB Ciptakan Robot untuk Bantu Pekerjaan Petani

Halaman: 
Penulis : Puput Indah Lestari, Christophorus Aji Saputro