logo


IPA: Pengusaha Migas Dipaksa Efisien Dalam Berinvestasi

Investasi hulu yang akan dikurangi para pengusaha migas salah satunya adalah kegiatan eksplorasi

2 Desember 2015 15:59 WIB

ISTIMEWA
ISTIMEWA

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Indonesia Petroleum Assosiastion (IPA) memprediksi, harga minyak dunia yang betah bertahan pada level terendah US$ 40 per barel, akan memaksa para pengusaha minyak dan gas bumi (migas) untuk lebih efisien dalam berinvestasi, khususnya di sektor hulu.

Board of Director IPA, Sammy Hamzah mengungkapkan, investasi hulu yang akan dikurangi para pengusaha salah satunya adalah kegiatan eksplorasi atau pencarian cadangan minyak yang dapat menyerap biaya sangat besar.

Dengan penghentian kegiatan tersebut, Sammy memprediksi, hal itu akan mengakibatkan cadangan minyak Indonesia semakin menipis. Karena masalah yang terjadi justru cadangan akan semakin berkurang, sementara rasio cadangan pengganti hanya sedikit.


Jonan Minta Industri Migas Belajar dari Sektor Telekomunikasi

"Problem bukan karena produksi turun. Tetapi rasio penggantiannya dibawah 0,5%. Artinya setiap 1 barel ditemukan, maka kurang dari 1 barel yang ditemukan. Sehingga lama-lama cadangan kita berkurang," jelasnya.

Tak hanya itu, Sammy juga menambahkan, kondisi tersebut akan diperparah dengan predikat investasi Indonesia yang dinilai sangat rendah.

"Turunnya harga minyak akan mengakselerasi. Tadinya sudah problem, akan lebih sulit lagi. Dana perusahaan migas terus menciut, dan rating Indonesia Destination of Investment, kita (Indonesia) bukan yang terbaik," tutup Sammy.

Gunakan GasMin, Industri Kecil di Sidoarjo Mampu Tingkatkan Omset Secara Efektif

Halaman: 
Penulis : Citra Fitri Mardiana, Deni Muhtarudin