logo


Jika Sanksi Barat Diputus, Iran Siap Guncang Sektor Migas Dunia

Wilayah barat daya Iran terbukti memiliki cadangan minyak terbesar dibandingkan dengan Afrika dan Nigeria

26 November 2015 18:20 WIB

Ilustrasi ladang pengeboran minyak
Ilustrasi ladang pengeboran minyak

TEHERAN, JITUNEWS.COM - Wilayah barat daya Iran terbukti memiliki cadangan minyak terbesar dibandingkan dengan Afrika dan Nigeria. Bahkan, diduga terdapat sekitar 60 miliar barel minyak yang menjadi ambisi terbesar Iran untuk kembali ke kancah perdagangan minyak dunia.  

Laporan CNN mengatakan, bahwa pengeboran di ladang minyak di wilayah selatan Azadegan hampir saja selesai. Namun, perjuangan Iran untuk menjadi "pemain" perdagangan minyak dunia terkendala sanksi negara-negara barat. 

Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh mengungkapkan bahwa Iran ingin kembali hadir dalam perdagangan minyak dunia untuk sesama anggota OPEC. 


Harga Minyak Dunia Sentuh Level Tertinggi Sejak 2014

"Kami adalah salah satu produsen tertua di dunia, produsen tertua di Timur Tengah. Akankah kita kehilangan pangsa kami di pasar? Ini tidak adil," kata Zanganeh, menyinggung tekanan di dalam negeri untuk mendapatkan kembali kejayaan sejak sanksi negara Barat. 

Iran memang terang-terangan menantang Irak sebagai produsen minyak terbesar kedua OPEC. Iran sendiri berada di posisi lima di dunia berada di belakang Arab Saudi, Rusia dan Amerika Serikat, yang masing-masing menghasilkan minyak 9 hingga 10 juta barel per hari. 

Sementara itu, wakil Menteri Perminyakan untuk urusan luar negeri, Amir Zamaninia, menegaskan bahwa Iran telah memetakan untuk ladang minyak dan temuan terbaru soal gas. "Semua ini perlu dikembangkan. Kita perlu lebih dari beberapa perusahaan besar untuk bermitra dalam mengembangkan bidang tersebut," ungkap Zamaninia. "Apa yang kita butuhkan adalah modal, teknologi dan beberapa manajemen proyek." 

Kemampuan Iran, lanjut Zamaninia, adalah untuk menarik perusahaan-perusahaan minyak internasional dengan tawaran proyek minyak, gas dan petrokimia senilai total 185 miliar dolar dalam kunjungan ke Eropa pada Februari mendatang. 

"Kontrak akan berjalan selama 25 tahun, dengan hak bagi hasil yang menguntungkan, kemungkinan ditandatangani oleh penutupan perdagangan pada semester pertama 2016," papar Zamaninia. 

Setelah tawaran Zamaninia tersebut, dalam laporan CNN, sudah lebih dari selusinan delegasi Eropa dan Asia termasuk para CEO perusahaan-perusahaan minyak internasional mondar-mandir Teheran, Iran. Kedatangan Presiden Vladimir Putin ke Teheran juga masih berkaitan dengan kandungan gas yang jumlahnya sangat banyak.  

Timbulnya kembali Iran sebagai kekuatan minyak dunia jelas akan mempengaruhi keseimbangan di OPEC. Dan rencana ambisius ini mungkin akan memaksa Arab Saudi untuk membuat jalan bagi saingannya itu. Karena selama ini Arab Saudi telah merebut pangsa pasar Iran selama sanksi negara-negara Barat dalam tiga tahun belakangan. 

"Jika Saudi memutuskan untuk mengubah taktik, yang harus mereka lakukan adalah mengambil satu hingga satu setengah juta barel per hari dari pasar dan itu baru akan seimbang," tegas Konsultan Global Energi Fereidun Fesharaki. 

Iran, lanjut Fesharaki, tidak akan mencoba membanjiri pasar dengan minyak bahkan akan menghindarinya.

"Iran sementara akan membuktikan kepada dunia bahwa mereka dapat membangun kapasitas untuk enam juta barel per hari pada 2020, tetapi apakah OPEC bersedia menyesuaikan output mereka dengan mengakomodasikan Iran untuk tetap menjadi yang terbesar?" pungkas Fesharaki. 

Baca juga: Asa Iran Kembali ke Pasar Minyak Global  

|CNN|

Harga Minyak Terus Dekati Level Tertinggi dalam Tiga Tahun

Halaman: 
Penulis : Tommy Ismaya