logo


PPI: Industri Otomotif Butuh Insentif-insetif Baru

Sejak tahun 1999, pemerintah tidak memberikan insentif khusus bagi industri otomotif

19 November 2015 17:17 WIB

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PPI) Bobby Gafur Umar mendesak pemerintah untuk kembali merangsang pengembangan industri otomotif nasional dengan memberikan insentif-insentif baru. Pasalnya sejak tahun 1999, pemerintah tidak memberikan insentif khusus bagi industri otomotif.

Perlu diketahui, pada periode sebelum tahun 1997, Indonesia telah menerapkan kebijakan perlindungan industri kendaraan bermotor dalam keadaan utuh (completely build up / CBU). Hal itu juga didukung kebuijakan meningkatkan industri komponen dalam negeri dana capaian tingkat kandungan lokal.

"Insentif yang diberikan oleh pemerintah Indonesia cenderung berfokus pada pengurangan bea masuk bagi impor barang modal. Pemberian insentif bagi impor barang modal dan komponen hanya mendorong industri kendaraan bermotor untuk berkompetisi di dalam negeri dengan kendaraan impor," ujarnya di Kantor Kemenperin, Jakarta pada Kamis (19/11).

Padahal menurutnya, industri otomotif adalah tambahan insentif fiskal. Khususnya bagi industri otomotif yang berorientasi ekspor dan memanfaatkan kawasan berikat atau fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE). Indonesia harus mencontoh apa yang dilakukan Thailand dan Malaysia dalam mendukung kemajuan industri otomotifnya.

"Bagi Industri kendaraan bermotor yang berorientasi ekspor yang memanfaatkan kawasan berikat atau fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE), secara relatif, tidak mendapatkan tambahan insentif fiskal," lanjutnya.

Thailand dan Malaysia banyak sekali memberikan insentif perpajakan selain insentif pengurangan bea masuk impor barang modal dan komponen. Malaysia memberikan. Fasilitas bebas pajak selama sepuluh tahun bagi industri yang memproduksi barang-barang yang termasuk dalam kategori critical and high value-added parts and components.

Sedangkan Thailand memberikan insentif pengurangan pajak penghasilan selain insentif pengurangan bea masuk impor barang modal dan komponen. Kegiatan riset dan pengembangan diberikan insentif pajak penghasilan selama tiga tahun. Selain itu, Thailand juga memberikan insentif perpajakan yang dikaitkan dengan lokasi pabrik di Bangkok.

"Industri otomotif kita memang mengalami banyak perkembangan, tapi kita harus jujur, industri otomotif kita sekarang ini bisa dibilang primitif. Jika tidak serius, industri otomotif Indonesia akan semakin tertinggal jauh dibandingkan negara tetangga kita seperti Thailand dan Malaysia," pungkasnya.

Dibanding Thailand, Industri Otomotif Indonesia Masih Tertinggal

Halaman: 
Penulis : Andi Dwijayanto, Vicky Anggriawan
 
×
×