logo


Di TTU, Kolam Renang dan Kolam Benih Ikan Digunakan untuk Airi Persawahan Warga

Debit air beberapa sumber air maupun sungai-sungai yang selama ini menjadi tumpuan warga berkurang

8 November 2015 00:00 WIB

Petani atasi kekeringan (Ist)
Petani atasi kekeringan (Ist)

TTU, JITUNEWS.COM - Musim panas yang tak kunjung berakhir tahun ini, membuat banyak warga mengeluh kesulitan air. Debit air pada beberapa sumber air maupun sungai-sungai yang selama ini menjadi tumpuan warga mulai berkurang, bahkan perlahan mengering. Padahal, kebutuhan akan air, selalu tak pernah berkurang. Air, memang menjadi suatu kebutuhan dasar bagi siapapun dan di mana pun entah itu manusia, hewan maupun tumbuhan.

Di desa Bijeli, kecamatan Noemuti, kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), kesulitan air pun dirasakan warga, terutama yang bermata pencaharian sebagai petani. Bagaimana tidak, persawahan yang menjadi tumpuan hidup sebagian besar warga desa Bijeli, terancam gagal panen karena kekurangan air.

"Selama beberapa minggu dalam bulan oktober lalu, daerah persawahan Kustanis tidak lagi mendapat pasokan air.  Ini dikarenakan, sumber air Oeluan yang selama ini menjadi tumpuan petani di sini berkurang debitnya", ujar Hilarius Taimenas, kepala desa Bijeli terpilih saat ditemui jitunews, sabtu (7/11).

Selain itu, lanjut Hilarius, pembagian air dengan kolam wisata Oeluan dan kolam benih ikan milik dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten TTU, menjadi alasan persawahan Kustanis tak lagi mendapat pasokan air yang cukup.

Hal ini tentu menimbulkan kecemasan tersendiri bagi petani, karena persawahannya, yang tinggal menghitung hari untuk dipanen, terancam gagal. "Untuk mengatasi hal tersebut, kami akhirnya sepakat untuk menutup sementara aliran air ke kolam wisata dan kolam benih ikan di balai benih itu. Intinya, kami selamatkan lebih dahulu daerah persawahan warga yang ada, agar mereka bisa panen", ujarnya lagi.

Sementara itu, di tempat yang berbeda, Petrus Kanio, salah satu pelaksana teknis pada balai benih ikan dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten TTU, saat ditemui jitunews, sabtu (7/11), membenarkan hal tersebut. "Memang atas permintaan warga desa Bijeli, untuk sementara kolam renang dan kolam benih ikan ini tidak lagi mendapat air dari sumber air Oeluan. Jadi, terpaksa kolam ikan di sini mengandalkan sumur bor yang ada", imbuh Petrus.

Hal yang sama pun dibenarkan oleh Jefry, salah satu pengelola kolam wisata Oeluan. "Memang selama beberapa minggu kolam wisata Oeluan diboikot masyarakat. Namun sekarang kolam wisata itu sudah terisi air, hanya pembuangannya kami alirkan ke sawah Kustanis untuk selamatkan sawah petani di sana", tukasnya.

(Yosef Serano Korbaffo)

Antisipasi Gagal Panen, Petani Sukoharjo Andalkan Sumur Dalam

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan