logo


Hari Lada Dunia : Kemendag Genjot Pengembangan Sektor Lada dari Hulu ke Hilir

Lada merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi

26 Oktober 2015 16:45 WIB


BANDUNG, JITUNEWS.COM – Lada merupakan salah satu rempah yang populer sejak berabad tahun lalu. Tanaman yang memiliki nama latin Piper nigrum Linn ini tumbuh merambat di pesisir pantai Malabar, India, dan mulai diBudidayakan di daerah tropis Asia Tenggara, termasuk di Indonesia pada masa prasejarah.

Terkait pengembangan komoditas lada ini, pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan menegaskan akan terus mendorong sektor lada dari hulu ke hilir. Komitmen ini makin bulat terutama pada saat terjadi penurunan produksi dan ekspor seperti saat ini, yang mencapai USD 330 juta.

“Tekad pemerintah adalah membangkitkan kembali lada sebagai komoditas ekspor yang bernilai tinggi,” tutur Direktur Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional (KPI) Bachrul Chairi dalam menyambut peringatan Hari Lada Dunia yang kegiatannya dipusatkan di Bandung, Senin (26/10).

Menurut data International Pepper Community (IPC), ekspor lada Indonesia mengalami penurunan sejak 2013 yang signifikan, sebesar 23% dalam kuantitas dan 18% berdasarkan nilai. Hingga 2014, Ekspor lada Indonesia terus turun menjadi 35.000 ton atau senilai USD 330 juta. Penurunan ekspor tersebut sejalan dengan penurunan produksi, diakibatkan oleh merosotnya angka produksi di sentra lada Indonesia seperti Lampung dan Bangka Belitung.

“Pemerintah memanfaatkan Peringatan Hari Lada Dunia juga untuk mendorong peningkatan daya saing lada Indonesia di pasar dunia, melalui diskusi dan demonstrasi mengenai hasil-hasil riset penanganan hama, bibit, dan cara peningkatan produksi hingga pemasaran. Kegiatan juga mampu meningkatkan antusiasme semua pihak untuk memahami pentingnya pengembangan lada yang bernilai tambah dan inovasi produk lada,” ungkap Junaedi, Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Manajemen yang membuka secara resmi acara Peringatan Hari Lada Dunia.

Dalam sambutannya, Junaedi menyatakan seluruh pemangku kepentingan, termasuk peran sektor industri, diharapkan mendukung pengembangan diversifikasi produk berbasis lada dan melakukan inovasi teknologi.

“Seluruh sektor baik pemerintah, swasta, organisasi internasional, akademisi, petani, dan pemangku kepentingan lainnya dapat menyadari bahwa kerja sama antar sektor sangat dibutuhkan dalam mendukung penguatan industri lada dan menjamin keberlanjutan pasar lada. Oleh karena itu, inovasi dan pengembangan pemanfaatan lada merupakan kunci utama dalam memajukan sektor lada sehingga keuntungannya dapat dinikmati dari mulai petani hingga pelaku usaha,” tegas Junaedi.

Junaedi menuturkan peluang pengembangan lada Indonesia sangat besar.

“Karena itu, semua pihak, terutama produsen, pengusaha,dan pemerintah bekerja sama melakukan pengembangan lada ini, sehingga Indonesia mampu mengatasi tantangan utama yang dihadapi komoditas lada nasional saat ini. Pada akhirnya, pengembangan lada ini dapat meningkatkan angka kontribusi lada bagi ekonomi Indonesia,” ujarnya.

Hari Lada (Pepper Day) kembali diperingati hari ini, Senin (26/10). Peringatan Hari Lada untuk kedua kalinya di Indonesia dan merupakan bentuk dukungan pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Perdagangan c.q. Direktorat Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional, terhadap program yang terus digalakkan oleh International Pepper Community (IPC) terkait pengembangan sektor lada di negara-negara produsen utama. Perayaan Pepper Day hasil kerjasama Kementerian Perdagangan dan IPC yang dikemas dalam rangkaian kegiatan menarik, seperti seminar, lomba masak, dan mini exhibition di Hotel Papandayan, Bandung, Jawa Barat. Sedikitnya 100 peserta dari berbagai kalangan seperti perwakilan negara produsen lada, asosiasi-asosiasi, petani lada, pelaku industri, akademisi di bidang pariwisata/ekonomi/bisnis/pertanian, serta pemerintah pusat dan daerah, hadir untuk memeriahkan peringatan Pepper Day 2015.

Sementara itu, Deny W. Kurnia, Direktur Kerja Sama APEC dan Organisasi Internasional Lainnya yang turut hadir dalam perayaan hari lada itu mengungkapkan dalam satu dekade ini tren permintaan lada dunia terus mengalami kenaikan. Namun, pada saat yang sama tren produksi lada Indonesia mengalami penurunan.

“Lada bagi Indonesia merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Namun sejak tahun 2013 ekspor lada mengalami penurunan yang cukup signfikan, padahal dalam satu dekade terakhir tren permintaan lada dunia terus mengalami kenaikan. Karena itu, penting bagi semua pihak di dalam negeri meningkatkan kembali produksi lada nasional guna memenuhi permintaan dunia,” tutur Deny W. Kurnia.

Ini Penyebab Sayuran Organik Berbentuk ‘Tak Sempurna’

Halaman: 
Penulis : Riana