logo


Kisah Inspiratif Chef Lucky, Jatuh Bangun Mengejar Impian Jadi Seorang Cheff

Mengikuti ajang combat Chef ini, bukan lantaran ingin mengejar status Celebrity Chef

26 Oktober 2015 00:00 WIB

Chef Lucky Andreono (Bayu Erlangga/Jitunews)
Chef Lucky Andreono (Bayu Erlangga/Jitunews)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Tak pernah terbersit sekalipun oleh pria berkepala plontos ini, untuk menjadi jawara dalam sebuah ajang bergengsi yang bertajuk Masterchef Indonesia. Sebuah program hiburan yang tayang di salah satu stasiun televisi swasta mengenai kemampuan seorang juru masak untuk diuji menjadi Chef yang handal. Yap, Ia adalah Chef Lucky Andreono.

Sosok pria humble yang memiliki bakat alam dalam mengolah menu masakan tradisional fusion ini menceritakan, sejak kecil ia sudah jatuh cinta dengan dunia memasak.  Waktu masih kecil, ia selalu diminta oleh neneknya untuk membantu kecil-kecilan  di dapur. Dari situlah, Ia mulai menyukai dunia masak memasak. Menurutnya, memasak merupakan cara dalam mengeskpresikan diri.

Namun seiring berjalannya waktu, keinginan untuk mewujudkan impiannya masih dalam sebatas angan. Sang Ayahanda tercinta menentang keras keinginannya untuk berkarir dalam dunia memasak. Ia pun mengenang bagaimana saat itu, keinginan terbesarnya harus dikubur demi mewujudkan impian sang ayah untuk meneruskan perusahaan furniture milik keluarganya.

"Kebetulan saya dari SMA sampai kuliah tinggal di Australia, waktu kuliah dulu ngambil jurusan marketing bisnis di Deakin University,bokap kurang menyukai pemikiran saya untuk terjun ke dunia dapur, ya sudah mulai dari situ saya hanya bisa memendam dan hanya berfikir untuk ngelarin kuliah dan pulang ke Indonesia dengan gelar bisnis," ungkapnya.

Tetapi bukan Lucky namanya, kalau hanya menyerah begitu saja dalam melepas impiannya. Ia tetap belajar dengan cara sering menonton program memasak lalu merekamnya. Setelah ia pulang dari jadwal kuliah, barulah hasil rekaman program tersebut ditontonnya.

"Kalau dulu di Indonesia program memasak baru sedikit, di Australia itu tivinya udah banyak banget acara cooking show, jadi saya belajar dari sana. Sebelum berangkat kuliah biasanya saya rekam dulu tuh pas masih format VHS,biasanya abis pulang kuliah videonya saya tonton, abis itu saya belanja ke pasar buat beli bahan terus saya coba masak sendiri, enak enggak, bener enggak cara masaknya"celotehnya seru.

Hingga akhirnya, ia pun memutuskan untuk bekerja di salah satu restoran sebagai seorang tukang cuci piring. Ayah dari Alex ini pun mengungkapkan alasannya bekerja menjadi seorang tukang cuci piring di saat ia sedang bermukim di negeri Kanguru tersebut

"Saya enggak punya basic masak, enggak punya keahlian untuk masak dan saya juga lagi engga belajar, jadi saya harus mulai dari paling bawah," katanya

Di tempatnya bekerja, ia seringkali mendapatkan pujian dari Chefnya karena selain cekatan dan cepat dalam melaksanakan pekerjaannya, hasil pekerjaannya pun dinilai sangat bersih.Kala itu menurutnya, alasan ia ingin melakukan pekerjaan dengan cepat karena ingin melihat si Chef dalam mengolah makanan.

"Sampai akhirnya Chef saya ngerti ngeliat kenapa saya seperti itu, hampir kurang lebih dua atau  hampir tiga bulan saya kerja itu, akhirnya setiap makan siang, saya selalu dimasakin sama Chefnya" tuturnya bangga.

Ia pun berucap bahwa menu lunch-nya tersebut bisa dikatakan spesial karena sering dibuatkan masakan oleh Head Chef atau pun wakil Chefnya sendiri. Tak hanya itu saja, saat mereka sedang berdiskusi untuk meracik menu baru, pria pengagum pakar kuliner, William Wongso ini menjadi orang pertama yang mendapat kesempatan untuk mencicipi menu tersebut, sebelum resmi menjadi menu baru di restoran.

Seiring berjalannya waktu, ia pun berhasil menggondol ijazahnya dan pulang ke tanah air. Di Indonesia kemudian ia menyemplungkan diri ke dunia bisnis, bekerja sebagai seorang marketing di salah satu pabrik eksport furniture. Ia pun lalu mengubur dalam-dalam hasratnya untuk berkarir di dunia memasak

"Selepas kuliah saya bekerja jadi marketing, mulai dari sales, packaging sampai delivery semua saya pegang, karena saya tuh orangnya pengen tahu semua,"tukasnya.

Lepas sebagai pekerja, Lucky akhirnya mencoba meneruskan bisnis furniture keluarganya. Sempat mengalami kesulitan akibat diterpa krisis monoter tahun 2008, bisnis keluarganya itu bertahan. Hal ini dikarenakan Lucky sudah menyiapkan beberapa pasokan barang sehingga selamat dari krisia meski akhirnya tahun 2010 bisnis keluarga itu pun akhirnya tutup

Berawal dari situlah, ada salah satu sahabat karibnya yang menginfokan untuk mengikuti ajang Mastercheff Indonesia. Tawaran tersebut langsung disambutnya, setelah melalui serangkaian proses yang dilalui dengan kerja keras dan dikolaborasikan dengan bakat alaminya dalam mengolah makanan, ia pun mampu menyabet gelar juara pertama di ajang tersebut.

Lucky menyebut bahwa gelar yang diraihnya kini bukan ajang eksis melainkan sebagai pembuktian kepada keluarganya, bahwa ia mampu untuk sukses berkarir di bidang masak memasak, dan terjun ke bidang ini sudah menjadi jalan hidup yang dipilihnya.

Selain itu, mengikuti ajang combat Chef ini, juga bukan lantaran untuk mengejar status "Celebrity Chef" seperti yang saat ini sedang marak.

"Seorang Chef akan diingat oleh masyarakat dari berapa banyak orang yang kamu ajari, atau misalnya setiap saya sedang cooking demo, pasti masakan saya akan dicicipi entah dari pengunjung ataupun crew. Hal ini seakan menjadi tolak ukur apakah masakan yang saya olah itu enak atau enggak dan masuk enggak di lidah masyarakat banyak, bukan hanya sekedar tampil di tivi tapi masakannya tidak pernah dicicipi oleh banyak orang," pungkasnya.

Jauh Banget! Berikut Perbandingan Militer AS vs Indonesia!

Halaman: 
Penulis : Hartati, Hasballah