logo


Bercocok Tanam di Lahan Sempit? Bukan Lagi Masalah!

Edmundus Oba menanam sayur di pekarangannya yang sempit

20 Oktober 2015 16:28 WIB

Edmundus Oba saat menyirami tanaman di pekarangan rumahnya. (Dok. Jitunews)
Edmundus Oba saat menyirami tanaman di pekarangan rumahnya. (Dok. Jitunews)

KEFAMENANU, JITUNEWS.COM- Salah satu kendala bercocok tanam yang dialami warga yang tinggal di sekitar wilayah perkotaan adalah ketiadaan lahan ataupun sempitnya lahan pekarangan yang bisa digarap. Pasalnya, dari sebidang tanah yang sedianya untuk bangunan rumah tinggal, biasanya hanya disisihkan sebagian saja sebagai lahan pekarangan, dan itupun seringkali hanya ditanami tanaman bunga. Namun untuk sebagian orang, pekarangan sempit, nyatanya bukan menjadi halangan untuk menyalurkan kegemarannya bercocok tanam.

Seperti yang dilakukan oleh Edmundus Oba, warga Faub, Kelurahan Kefamenanu Selatan, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dari sekian banyak warga wilayah perkotaan, Edmundus memanfaatkan pekarangan sempit rumahnya untuk bercocok tanam.

Saat dijumpai jitunews, selasa (20/10), ia mengatakan, dengan kondisi terlahir sebagai anak desa yang sudah terbiasa dengan iklim bercocok tanam dan berkebun, pekarangan sempit itu bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menyalurkan kegemarannya. “Pekarangan rumah saya sempit, di bagian samping kiri kanan merupakan jalan menuju ruangan belakang. Jadi, satu-satunya lahan yang bisa saya garap adalah halaman depan, yang berjarak 3 meter dari jalan raya. Nah, di tempat itulah saya gunakan untuk menanam sayuran,” imbuhnya.

Di halaman depan dekat teras rumahnya, Edmundus menanam berbagai macam bahan kebutuhan harian dapur seperti sayuran, tomat, cabai, bawang dan lain-lain dengan memanfaatkan media polybag.


Ganjar Pranowo Akan Coba Aplikasi Nelayan Pintar

Edmundus pun mengisahkan, awalnya ia mengambil tanah hitam di tempat lain, dikumpulkannya, lalu dicampur dengan pupuk kandang yang terbuat dari kotoran hewan. “Setelah saya campurkan tanah hitam itu dengan kotoran sapi dan kambing secara merata, saya pun membeli polybag untuk menaruh tanah campuran itu, lalu saya tanam sayur seperti sayur alfase, sayur putih, cabai, tomat, bawang dan lainnya yang telah saya semaikan sebelumnya. Setelah itu, tinggal rajin menyiram dan gemburkan tanahnya saja,” jelasnya.    

Menurutnya, kegemaran bercocok tanamnya membuat sang keluarga tak perlu repot-repot membeli bahan-bahan dapur untuk keperluan konsumsi sehari-hari. “Jadi pengeluaran untuk sayur, cabai, dan tomat, bisa kami pos-kan untuk kebutuhan yang lain, seperti pendidikan anak-anak dan lain sebagainya,” tutup pensiunan PNS ini. (Yosef Serano Korbaffo)

Mahasiswa IPB Ciptakan Robot untuk Bantu Pekerjaan Petani

Halaman: 
Penulis : Christophorus Aji Saputro