logo


Stok Beras Melimpah, Mentan : Jangan Bicara Soal Impor Beras Dulu!

Amran menjelaskan, harga beras juga terpantau stabil, tidak ada kenaikam signifikan

17 Oktober 2015 10:09 WIB

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. (Dok. Jitunews)
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. (Dok. Jitunews)

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Di tengah tekanan impor beras dan musim penceklik, pasokan beras dari petani lokal untuk Pasar Induk Beras Cipinang justru melimpah. Dalam satu minggu terakhir ini, sudah masuk 320 truk beras dari berbagai daerah yang mencapai 5.250 ton.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Nellys Soekidi mengatakan,  dalam hitungannya, stok beras sampai Desember cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Ada beras masuk mulai Senin 12 Oktober kemarin ada 5.250 ton. Ini pertama terjadi padahal paceklik, biasanya kalau musim-musim seperti ini tidak pernah sebanyak ini. Ada lagi tambahan nanti,” ujarnya di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Jumat (16/10).

Menurutnya, pihaknya sudah menyiapkan strategi untuk kondisi kekeringan seperti saat ini. Selain Bulog yang memiliki stok, dirinya dan kawan-kawan pedagang juga menyiapkan stok.

"Kita pasar punya strategi, kita para pedagang punya stok. Bukan hanya di Bulog saja, tapi di penggilingan juga masih ada stok. Pertimbangannya adalah stok di Bulog dan stok di penggilingan. Kalau kita load di beberpa daerah juga kan masih ada potensi panen," jelasnya kepada wartawan.

Dia menambahkan, seandainya terpaksa impor, sebaiknya pemerintah memperhitungkannya secara cermat, yakni hanya sebatas memenuhi cadangan saja untuk maksimal 3 bulan di bulan Januari-Maret.

"Seandainya impor, tolong hitung kebutuhannya. Yang dikhawatirkan beberapa bulan saja, jangan diisi dengan impor sebanyak-banyaknya untuk memenuhi stok,” tegasnya.

Nellys menjelaskan, dengan stok yang ada, kebutuhan Januari-Februari akan tergantung kondisi bulan November. Kalau November hujan, maka Februari sudah panen, kalau Desember hujan, panennya mundur di Maret.

“Bila separah-parahnya tidak ada hujan, maka cukup kebutuhan 3 bulan itu saja yang bisa dipenuhi dari impor. Jangan karena memenuhi kebutuhan 3 bulan, tapi impornya besar-besaran," ujar Nellys.

Menurut dia, impor beras bisa menjadi problem serius bagi petani jika beras yang diimpor melebihi kebutuhan. Dia menyarankan, impor beras sebaiknya diserahkan kepada Bulog semata, tanpa melibatkan swasta.

“Karena begitu masuk melalui Bulog, beras bisa ditahan menyesuaikan kebutuhan. Bila di tangan swasta, beras itu akan keluar sewaktu-waktu. Kasihan masyarakat kalau begitu,” pungkasnya.

Mentan Minta Eksportir Pertanian untuk Buka Lapangan Kerja

Halaman: 
Penulis : Christophorus Aji Saputro, Riana
 
×
×