logo


Di Belu, Kekeringan Terjadi Karena Rusaknya Hutan

Kehadiran badai El Nino, merupakan sahabat sekaligus musuh yang datang untuk mengingatkan

16 Oktober 2015 13:00 WIB

Kekeringan di Belu, NTT, disinyalir karena rusaknya hutan.(dok.kilastimor)
Kekeringan di Belu, NTT, disinyalir karena rusaknya hutan.(dok.kilastimor)

ATAMBUA, JITUNEWS.COM- Kehadiran musim kemarau yang sangat panjang ini, telah membuat semua sendi perekonomian masyarakat akhirnya menjadi lumpuh total. Sebagai akibatnya, masyarakat akhirnya dipaksa berjuang keras untuk keluar dari segala persoalan itu.

Melihat situasi dan kondisi yang semakin pelik dan yang sementara menimpa masyarakat itu, akhirnya mengundang Leonardus Mali Mau selaku aktifis pemerhati masalah sosial membuka mulut. Dikatakannya,  kekeringan yang hingga kini masih saja terjadi selain dipengaruhi badai El Nino, ternyata juga dilatar belakangi oleh semakin tandusnya hutan lindung dan hutan adat yang ditebang secara membabi buta oleh segelintir orang. Sehingga menyebabkan sumber mata air menjadi kering dan semakin terjadinya kelangkaan pangan.

"Kalau saja hutan-hutan itu tetap dijaga eksistensinya, mungkin kita tidak akan terlalu mengalami kekeringan yang berujung pada ketiadaan air dan juga ketiadaan pangan. Ini merupakan kesalahan terbesar yang telah kita perbuat," katanya kepadanya Jitunews, Jumat (16/10).

Kehadiran badai El Nino, lanjutnya, merupakan sahabat sekaligus musuh yang datang dengan caranya untuk mengingatkan kita bahwa semestinya alam itu harus dirawat dan dijaga dengan baik. Jika alam ditelantarkan dengan tidak memperhatikan sisi manfaatnya, maka ke depannya masih saja terjadi kekeringan berkepanjangan.

"Setelah kemarau dan kekeringan yang begitu panjang, kita tidak dapat berbuat banyak. Mau tanam apa, kalau tak ada air? Mau panen apa, kalau lagi-lagi tak ada air? Mungkin kita hanya bisa panen air mata, karena kesalahan kita. Pemerintah juga salah karena tidak tegas mendidik masyarakatnya," tegasnya.

Dirinya juga menyinggung, sisi lain dari akibatnya kemarau panjang dan kekeringan, telah membuat malapetaka yang besar yakni para petani tentunya tidak akan bisa menghasilkan pangan yang baik. Dan pastinya mempengaruhi omset atau pendapatan bagi para petani.

"Ini sudah termasuk gawat darurat bagi para petani di daerah perbatasan yakni di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Kemarau panjang. Air tidak ada. Ya, para petani gigit jari. Mereka mau tanam dan panen apa?" tanyanya retoris.

Untuk itu, dirinya tetap mendesak dan mendorong Pemerintah setempat agar lebih memberikan perhatian yang serius kepada masyarakat terlebih kepada para petani. Sehingga para petani kembali giat dan semangat untuk bekerja menghasilkan pangan yang baik.

"Perhatian kepada petani harus tetap diberikan. Karena tanpa petani, Pemerintah tidak dapat berbuat apa-apa. Harus itu!" (Felixianus Ali)

Saatnya Wilayah Perbatasan di Kalbar Dijadikan Lumbung Padi

Halaman: 
Penulis : Ali Hamid