logo


Hah! Ada Monyet Bersin dan Ikan Berjalan di Himalaya

Penemuan yang paling mengherankan, seekor ikan snakehead berwarna biru cerah yang bisa berjalan

7 Oktober 2015 10:00 WIB

Si monyet bersin. (Dok. Mirror.co.uk)
Si monyet bersin. (Dok. Mirror.co.uk)

HIMALAYA, JITUNEWS.COM - Pegunungan Himalaya sudah sangat terkenal di dunia. Barisan pegunungan ini memisahkan anak benua India dari Dataran Tibet.

Himalaya merupakan tempat gunung-gunung tertinggi di dunia, seperti Gunung Everest dan Kanchenjunga, berada. Secara etimologi, Himalaya berarti "tempat kediaman salju", dalam bahasa Sanskerta (dari hima "salju", dan aalaya "tempat kediaman").

WWF (World Wide Fund) mengungkapkan bahwa baru-baru ini, sedikitnya 200 jenis spesies telah ditemukan di Himalaya - di antaranya, monyet yang bisa bersin saat hujan, dan ikan yang bisa berjalan.

Setidaknya, WWF telah menemukan 133 tanaman, 26 spesies ikan, 10 amfibi, seekor reptil dan burung serta mamalia baru di seluruh wilayah Himalaya dalam lima tahun ini. Meliputi sebagian Nepal, Bhutan, Utara Burma, Selatan Tibet, dan Timur Laut India.

Seperti dilansir dalam laman Dailymail, terdapat sebuah penemuan yang paling mengherankan, yakni seekor ikan snakehead berwarna biru cerah yang bisa berjalan. Ditemukan di rawa-rawa Lefraguri Bengal Barat, India - makhluk ini bernafas dengan oksigen dan bisa bertahan hidup di daratan selama 4 hari. Mereka bisa bergerak dengan meliuk-liukan tubuh mereka, sejauh 400 meter di atas tanah basah. Ikan primitif yang dikenal agresif ini mendapatkan julukan 'fishzilla'.

Temuan lainnya dari WWF, yakni jenis monyet hidung terbalik, dengan julukan "Snubbby", di hutan belantara Burma Utara. Penduduk lokal menuturkan bahwa, spesies ini mudah ditemukan ketika hari sedang hujan. Hal ini dikarenakan lubang hidung monyet yang mengarah ke atas mengakibatkan mereka bersin setiap tetesan air hujan masuk melalui rongga pernapasan mereka.

Seperti diungkap Daily Mail, untuk mengatasi masalah ini, spesies monyet bersin dengan julukan Snubby ini akan mengapit wajahnya di antara lutut mereka ketika sedang hujan.

Penemuan lain yang tak kalah menariknya, adalah burung jenis baru yang dinamakan spotter wren-babbler, kodok bermata biru, dan ular berkepala menyerupai tombak dengan corak tubuh merah, kuning, dan oranye. Warna kulitnya ini disebut menyerupai perhiasan.

Namun demikian, pihak WWF menegaskan untuk berhati-hati dengan bahaya yang akan dihadapi saat berhadapan dengan spesies baru ini. Dan hanya dari seperempat daerah yang masih utuh, ratusan hewan dan tumbuhan yang baru ditemukan itu terancam kelestariannya.

Perubahan iklim yang tengah terjadi merupakan ancaman serius bagi daerah barisan pegunungan di Asia. Sementara, pertumbuhan populasi, penebangan hutan, perburuan, dan kegiatan eksploitasi alam lainnya oleh manusia menjadi ancaman bagi alam Himalaya Timur.

"Penemuan ini menunjukkan, masih banyak yang perlu dipelajari mengenai spesies yang berbagi kehidupan dengan kita," ungkap Heather Sohl, penasihat utama spesies dari WWF Inggris. "Ini pengingat, bahwa jika kita tidak segera bertindak melindungi ekosistem, kekayaan alam akan hilang untuk selamanya."

Sementera, perwakilan WWF Bhutan menambahkan, jika penemuan ratusan spesies baru dari salah satu area yang kaya secara biologi, merupakan selebrasi hadiah yang menakjubkan dari alam.

"Dengan penemuan, datang tanggung jawab penting untuk terus melindungi hadiah berharga yang memberkahi dunia,' pungkas Dechen Dorji.

|dailymail|

Cara Membudidayakan Jambu Air (2)

Halaman: 
Penulis : Tommy Ismaya