logo


Berharap Bantuan, Teh Asam Kandis Sijunjung Berusaha Eksis

Kabupaten Sijunjung sendiri merupakan salah satu pusat keragaman kerabat manggis dan rambutan

5 Oktober 2015 14:25 WIB

Asam Kandis asli Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.(Ist.)
Asam Kandis asli Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.(Ist.)

SUMATERA BARAT, JITUNEWS.COM - Kabupaten Sijunjung (sebelumnya disebut Kabupaten Sawahlunto Sijunjung) adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Sebelum tahun 2004, Kabupaten Sijunjung merupakan kabupaten terluas ketiga di Sumatera Barat, dengan nama Kabupaten Sawahlunto Sijunjung. Namun, sejak dimekarkan (yang menghasilkan kabupaten Dharmasraya), kabupaten ini menjadi kabupaten tersempit kedua di Sumatera Barat.

Seperti daerah lainnya di Sumatera Barat, kabupaten ini mempunyai iklim tropis dengan kisaran suhu minimun 21 °C dan maksimum 37 °C. Sedangkan tingkat curah hujan di Kabupaten Sijunjung mencapai rata-rata 13,61 mm per hari.

Kabupaten Sijunjung sendiri merupakan salah satu pusat keragaman kerabat manggis dan rambutan. Kerabat manggis meliputi asam gelugur, asam kandis, manggis jepang daun panjang dan manggis jepang daun licin. Sedangkan kerabat rambutan meliputi rambutan oge, rambutan puding tunjuk, rambutan mane, rambutan tembilik, dan rambutan kumayun.

Sebagaian besar Garcinia sp. dan Nepheium sp. di daerah ini dapat dijumpai di hutan sekitar area pemukiman warga. Keberadaan tanaman ini memang sudah langka, karena banyak ditebang dan selama ini dinilai tidak bernilai ekonomis.

Sejak tahun 2013, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Sijunjung melaksanakan kegiatan Konservasi dan Pemanfaatan Kerabat Manggis dan Rambutan yang dilaksanakan di Nagari Latang dan Kampung Dalam Kecamatan Lubuk Tarok, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.

Konservasi itu sendiri dilaksanakan dengan metode berbasis komunitas lokal (Community Based Management).  Asisten II Bupati Sijunjung Yosrizal menilai, kegiatan konservasi ini sangat membantu masyarakat untuk mengenal kerabat buah-buahan, khususnya rambutan dan manggis serta berbagai manfaatnya.

"Salah satu contoh pemanfaatan kerabat manggis yang dilakukan oleh Komunitas Lokal Bioversity adalah pengolahan asam gelugur dan asam kandis menjadi teh kesehatan," ungkap Yosrizal seperti dilansir dalam laman resmi Balitbangtan.

Sebelumnya, asam gelugur dan asam kandis hanya digunakan sebagi bumbu penyedap olahan makanan terutama untuk menghilangkan bau amis pada ikan.

Pengolahan asam kandis dan asam gelugur menjadi sebuah produk teh, disinyalir dapat berfungsi menyerap kelebihan lemak, mengurangi kolesterol, melebarkan pembuluh darah, memperbaiki sirkulasi darah, menurunkan tekanan darah tinggi dan melancarkan menstruasi.

Pengolahan teh asam kandis dan asam gelugur masih dilakukan secara tradisional, sehingga produksi dan pasarnya pun masih terbatas. Teh asam kandis dan asam gelugur dijual dengan harga Rp. 50.000,-/pak (isi 25 sachet), memang cukup mahal bila dibandingkan dengan teh yang beredar dipasaran.

Menilik dari manfaatnya sebagai salah satu obat herbal tradisional, pengolahan asam kandis dan gelugur memang perlu penanganan yang cukup serius. Oleh karena itu, kontribusi lembaga terkait seperti Kementerian Perindustrian, Kementerian Kesehatan sangat dharapkan untuk membantu memajukan industri ini, menjangkau pasar lebih luas lagi dan dapat menurunkan biaya produksi sehingga harganya bisa bersaing.

​Konsumsi Ubijalar Ungu BAB Lancar

Halaman: 
Penulis : Tommy Ismaya