logo


Dahsyat, Warga Solo Ini Petik Untung Jutaan Rupiah dari Selada Hidroponik!

Teknik hidroponik yang dilakukan Andi ini adalah dengan menggunakan pipa paralon ukuran 3 inch

2 Oktober 2015 17:36 WIB

Tanaman selada hidroponik milik warga Jalan Baturan Raya No 134C, Fajar Indah Solo, Jawa Tengah, Andi Wibowo. (Foto : Jitunews.com/Labib Zamani)
Tanaman selada hidroponik milik warga Jalan Baturan Raya No 134C, Fajar Indah Solo, Jawa Tengah, Andi Wibowo. (Foto : Jitunews.com/Labib Zamani)

SOLO, JITUNEWS.COM – Berawal dari hobi menanam tanaman sayuran di pipa, menginspirasi warga Jalan Baturan Raya No 134C, Fajar Indah Solo, Jawa Tengah, Andi Wibowo untuk Budidaya selada dengan sistem hidroponik.

“Awalnya hanya coba-coba menaman sayuran di rumah. Kemudian saya ikut pelatihan tentang tanaman hidroponik di Jawa Timur. Setelah itu saya mencoba serius dengan aneka selada,” terang Andi kepada JITUNEWS.COM, Jumat (2/10).

Andi memulai usaha Budidaya selada hidroponik sejak tahun 2012 silam. Ia memanfaatkan lahan di belakang rumahnya, masing-masing berukuran 16 x 16 m2 dan 20 x 20 m2.

Adapun teknik hidroponik yang dilakukan Andi adalah dengan menggunakan pipa paralon ukuran 3 inch. Namun, Andi merangkai pipa paralon menjadi satu modul dengan jumlah 780 lubang.

“Saya memiliki 16 modul dengan aneka jenis selada. Ada selada keriting hijau, merah, romaine, dan butterhead,” sebut Andi.

Untuk benihnya, Andi mendatangkan secara langsung dari Amerika dan Belanda. Pasalnya, benih yang didatangkan dari kedua negara itu kualitasnya bagus. Meski demikian, Andi juga menggunakan benih selada lokal untuk tanaman hidroponiknya.

“Budidaya tanaman sayuran dengan sistem hidroponik tidaklah begitu sulit. Selain tingkat kebutuhan airnya sedikit dibanding kebutuhan air pada Budidaya dengan tanah, tanamam hidroponik juga lebih efisien. Karena hidroponik ini menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi,” tambahnya.

Dalam menjalankan Budidaya hidroponiknya ini Andi melibatkan 4 orang pegawai yang bertugas membantunya bertanam, perawatan sampai panen.

“Selada bisa dipanen 30-40 hari setelah bibit ditanam. Dalam sepakan saya bisa panen antara 1-2 modul selada. Kemudian saya jual secara eceran dengan harga R p5.000. Jadi, sekali panen bisa meraup keuntungan hingga jutaan rupiah,” terang Bapak satu anak ini.

Selama ini Andi memasarkan selada hidroponiknya ke berbagai supermarket, hotel dan restauran kelas menengah-atas di seputaran Solo dan Yogyakarta.

Saat ditanya apakah ia akan memasarkan seladanya ke luar dua daerah itu, Andi mengaku belum memikirkan hal itu. Pasalnya, untuk mencukupi kebutuhan permintaan kedua daerah itu masih kesulitan. Sehingga pihaknya juga menggandeng sejumlah mitra untuk mencukupi kebutuhan permintaan. (Labib Zamani)

Panen Selada di Lanud Sultan Hasanuddin

Halaman: 
Penulis : Riana
 
×
×