logo


Mengintip Usaha Budidaya Kerapu di 'Raja Ampat Versi Sumatera'

Ikan kerapu yang banyak dibudidayakan adalah kerapu bebek, macan, tikus, dan cantik

23 September 2015 12:24 WIB

Istimewa
Istimewa

 For those who want to travel to West Sumatra there's nothing wrong if you visit Mandeh. Yes, Mandeh is a well known tourist destination in Pesisir Selatan Region, West Sumatra. Minister of Tourism Arief Yahya even calls Mandeh area Raja Ampat of Sumatra version.

SUMBAR, JITUNEWS.COM – Bagi Anda yang hendak ber-travelling ke daerah Sumatera Barat, tak ada salahnya lho Anda mengunjungi daerah Mandeh. Ya, Mandeh merupakan kawasan wisata yang cukup kesohor di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Menteri Pariwisata Arief Yahya pun bahkan menyebut kawasan Mandeh sebagai Raja Ampat versi Sumatera.

Apa yang istimewa dari Mandeh? Dikutip dari Kontan, selain daerah wisata, di kawasan ini juga banyak terdapat sentra Budidaya ikan kerapu. Budidaya kerapu di Mandeh sudah berlangsung sejak 2003 silam.

Sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai pemBudidaya ikan kerapu. Hasil Budidaya mereka telah banyak diekspor ke berbagai negara. PemBudidaya ikan kerapu di Mandeh ini terbagi menjadi 30 kelompok dengan total peBudidaya mencapai 200 orang. Rata-rata kelompok  terdiri dari lima sampai enam orang anggota.

Yosmeri, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Barat bilang, total kawasan Budidaya ikan kerapu di Mandeh mencapai 8.500 hektar. Kawasan ini memiliki bukit-bukit yang berdekatan namun terpisah oleh laut. Setiap bukit ada satu sampai dua kelompok Budidaya ikan kerapu.

Yohannes Edi, seorang peBudidaya kerapu mengaku sudah menekuni usaha ini sejak tahun 2009.

"Potensi ikan kerapu di Mandeh sangat baik," kata Yohannes yang juga Ketua Kelompok Ikan Kerapu Mandeh Tarusan.

Ikan kerapu yang banyak diBudidayakan di kawasan ini jenis kerapu bebek, kerapu macan, kerapu tikus, dan kerapu cantik yang merupakan perpaduan kerapu macan dan kerapu tikus.

Bila harganya sedang bagus, 1 kg kerapu bisa dihargai sampai Rp 400 ribu. Tingginya harga inilah yang mendorong banyak penduduk Mandeh beralih profesi menjadi peBudidaya ikan kerapu.

Yohannes sendiri memiliki lahan seluas 1.000 m2. Lahan itu mampu memuat 20 buah keramba apung. Dengan dibantu empat karyawan, Yohannes fokus memBudidayakan kerapu macan dan kerapu cantik. Ikan kerapu memiliki masa panen 18-20 bulan dengan berat 5 ons per ekor. Sekali panen, Yohannes bisa menghasilkan 500 kg-1 ton ikan kerapu.

Dengan rata-rata harga jual Rp 150-300 ribu per kg, Yohannes bisa memperoleh penghasilan Rp 20 juta per bulan.

"Tapi hasilnya tergantung penyebaran benih awal dan perawatan," ujarnya.

Ia mencontohkan jika tebar benih 2.000 ekor maka yang mati sekitar 20%. Bila kurang telaten dalam merawat, ikan akan stress dan tingkat kematian bisa 30%.

Tiga Langkah Strategis dalam Inovasi Budidaya Perikanan

Halaman: 
Penulis : Riana