logo


Usung Budidaya Cabai High Population, Pria Ini Sukses Raup Omzet Puluhan Juta!

Dengan metode ini, jumlah panen meningkat hingga 5 kali lipat

22 September 2015 16:57 WIB

Istimewa
Istimewa

SUKABUMI, JITUNEWS.COM - Kecintaannya terhadap dunia agribisnis menggiring Yussa Fauzan mempelajari banyak hal tentang bidang pertanian khususnya Budidaya cabai. Sejak tahun 2005 Sarjana Akuntansi STIE Malang, Jawa Timur ini telah aktif mencari info cara Budidaya cabai melalui media cetak, elektronik maupun internet. Menurutnya cabai merupakan salah satu komoditas pertanian dengan permintaan yang sangat besar.

Tak ayal berbagai teknologi Budidaya cabai pun dipelajari pria kelahiran Lampung ini. Dari beberapa artikel yang dibacanya, diketahui bahwa menanam cabai di kebun green house dengan metode high population (jarak tanam yang rapat) dan pemberian enzim dapat meningkatkan panen meski saat musim hujan tiba, di mana serangan hama penyakit meningkat dan banyak petani gagal panen.

Setelah memahami teknologi tersebut, Fauzan mulai menanam cabai di Desa Sukajaya, Sukabumi, Jawa Barat sejak tahun 2009. Modal sebesar Rp 300 juta pun dikeluarkan Fauzan untuk membuat kebun green house dengan teknologi high population.

“Modal tersebut digunakan untuk membangun 10 unit green house di atas lahan seluas 1 hektar, membeli plastik mulsa, 100 pack benih cabai, enzim Solbi, pupuk kandang, NPK, alat pertanian dan biaya tenaga kerja,” urai Fauzan.

Fauzan mengatakan, yang dimaksud dari kebun green house di sini bukan berarti rumah kaca pada umumnya, melainkan green house sederhana yang terbuat dari kerangka bambu dengan atap plastik ultraviolet. Dengan demikian, suhu dalam kebun lebih stabil dan tanaman tidak terganggu curah hujan dan dapat mengurangi serangan penyakit. Fauzan menanam cabai di atas gundukan tanah (bedengan) yang di atasnya ditutup plastik mulsa yang dilubangi sesuai jarak tanam. Di lubang-lubang ini cabai ditanam.

Dari satu green house seluas 1.000 m2 dapat dibuat 35-37 bedengan dengan jarak lubang tanam 10-20 cm. Padahal petani lain menanam cabai dengan jarak 60x60 cm. Tak heran jika dari 10 unit green house, Fauzan dapat menanam sekitar 150 ribu tanaman cabai yang terdiri dari 40% cabai merah keriting dan 60% cabai merah besar.

Dengan metode tersebut, Fauzan mengaku mampu meningkatkan jumlah panen hingga 5 kali lipat dari petani lainnya dengan waktu panen yang lebih panjang.

“Ya, jika petani cabai waktu tanam hanya 5 bulan, saya baru bongkar kebun setelah 11 bulan. Kuncinya pada pemberian enzim pada media tanam, sehingga meski penanam lebih rapat, tapi kebutuhan nutrisi tanaman tetap terpenuhi,” akunya.

Tak heran, usaha yang disetir Fauzan pun mampu mendatangkan omset hingga sekitar Rp 93 juta tiap bulan. Padahal, banyak petani gagal panen akibat serangan hama yang menyebabkan harga cabai tembus di angka Rp 100 ribu/kg.

Kisah Sukses Sarjana Asal Payakumbuh Raup Cuan ‘Pedas’ dari Budidaya Cabai

Halaman: 
Penulis : Riana