logo


Keren, Perusahaan Ini Sukses Berbisnis Hewan Kurban Berkat Layanan 'Jemput Bola'!

kunci sukses penjualan kambing/domba adalah mengajukan proposal ke berbagai instansi

22 September 2015 16:42 WIB

Kambing kurban. (Ist)
Kambing kurban. (Ist)

TANGERANG, JITUNEWS.COM - Keinginan menjalankan usaha yang dapat dilakukan banyak orang menginspirasi Muryatno Al Baro bersama Andri Fajria terjun menjadi penjual kambing dan domba untuk kebutuhan kurban pada saat Lebaran Idul Adha.

Kesempatan ini pun tak dilewatkan keduanya dengan membeli beberapa ekor kambing, menyewa tempat dan membangun kandang kambing sederhana di Poris Palawad Tengerang, Banten dengan modal patungan sekitar Rp 15 juta.

“Saat itu (tahun 2006) kita lagi cari peluang usaha, dalam seminar kewirausahaan salah satu pembicaranya yakni Rhenald Kasali menganjurkan untuk fokus pada usaha yang bisa dijalankan banyak orang. Nah kebetulan itu dekat momen Lebaran Haji (Idul Adha) makanya kita putuskan jualan kambing,” kenang Al Baro seperti dikutip dari Tabloid Peluang Usaha.

Tak ingin sama dengan pedagang hewan kurban umumnya yang membuka lapak di pinggir jalan, Al Baro melakukan strategi pemasaran yang cukup mujarab. Pria yang terbiasa usaha sejak kuliah dan pernah mendirikan lembaga inkubator bisnis serta menjabat sebagai ketua Jaringan Usaha Koperasi Daerah (JUKDA) Kota Tangerang ini melayangkan proposal penjualan kambing dan domba untuk keperluan kurban ke berbagai instansi pemerintahan, organisasi serta menyebarkan brosur ke berbagai kompleks perumahan. Dengan jaminan kambing yang dijual telah memiliki sertifikat bebas penyakit dari Dinas Kesehatan Kota, membuat jualan pria yang masih belajar di TSTIE YP. Karya Kota Tangerang ini cukup laris manis.

Melihat penjualan hewan kurban cukup diterima masyarakat dan menjanjikan untung besar, maka Al Baro menseriusi usaha dengan mendirikan badan hukum CV Harmonia Adil Mandiri yang kemudian berganti nama menjadi PT Harmonia Saga Makmur (HSM) di tahun 2008.

“Alhamdulillah permintaan kambing maupun domba untuk keperluan kurban saat Lebaran Idul Adha sangat besar, makanya kita serius menjalankan usaha ini. Apalagi sebagian besar pedagang hewan kurban hanya bersifat musiman dan hanya sekadar sampingan. Maka prospeknya sangat menjanjikan,” jelasnya.

Namun agar usahanya tak sekadar musiman, tapi dapat berjalan hingga pasca-Lebaran Idul Adha, Al Baro yang saat ini hanya menjalankan usaha bersama Andri Fajria kembali sebarkan brosur, memasang banner mini di pohon-pohon dan proposal yang berisi menyediakan kambing dan domba untuk Aqiqah (tradisi memotong kambing/domba sebagai rasa syukur atas kelahiran anak) ke Rumah Sakit bersalin, bidan, hingga memberikan member voucher diskon aqiqah sebagai cenderamata perkawinan dan persalinan. Hasilnya juga cukup menggembirakan. Layanan aqiqah ini kemudian dikenal dengan Aqiqah Center (Raja Kambing Jabodetabek).

Al Baro mengatakan kunci sukses berjualan kambing/domba baik untuk kurban, aqiqah maupun untuk penjualan ke pedagang di pasar tradisional adalah mengajukan proposal ke berbagai instansi pemerintahan, perusahaan besar, organisasi, kompleks perumahan, Rumah Sakit Bersalin, hingga memasang banner di pohon pinggir jalan dan memberikan voucher aqiqah.

“Semua itu berlangsung secara bertahap, dari satu konsumen biasanya merekomendasikan ke konsumen lain, begitu juga dengan instansi pemerintahan, organisasi hingga Rumah Sakit Bersalin. Saya juga perlu melobi hingga meyakinkan calon konsumen atau instansi bahwa kambing/domba yang saya jual sehat dan memenuhi persyaratan. Selebihnya kuasa Tuhan yang memberi kemudahan penjualan kambing/domba,” jelas pria yang pernah menyabet rekor MURI atas acara aqiqah massal sebanyak 200 ekor kambing sehari yang diadakan Minyak Telon Cap Lang tahun 2008 lalu.

Miris, Empat Ekor Gajah di Sri Lanka Mati Tersambar Petir

Halaman: 
Penulis : Riana