logo


Panen Garam Super, Perindagkop TTU: Ini Baru Gebrakan Awal

Lahan produksi garam di NTT perlu diperluas

16 September 2015 15:19 WIB


KEFAMENANU, JITUNEWS.COM- Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Perindagkop) melakukan panen simbolis garam super beriodium di atas area seluas setengah hektare, yang berada di Desa Oesoko, Kecamatan Insana Utara.  

Saat ditemui jitunews, Rabu (16/9), di ruangannya, Maksimus Akoit, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Perindagkop) mengatakan, panen garam super beriodium yang menggunakan teknologi geomembran ini, hanya sebagai gebrakan awal, demi peningkatan produksi garam super beriodium di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). 

“Panenan garam super yang dilaksanakan pada senin lalu (14/9), hanyalah gebrakan awal untuk mendukung peningkatan produksi dan kecukupan garam super beriodium di wilayah TTU. Sebenarnya, ini merupakan program dari dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT, sebab sejak pengerjaan awal sampai dengan produksinya itu, anggarannya ditanggung oleh mereka,” jelas Maksimus.


Soal Impor Garam, Fadli Zon: Ironis

Ia pun menjelaskan, luas lahan untuk penambangan garam itu hanya setengah hektare saja, yang terbagi menjadi 6 bentangan bedeng. “Karena hanya sebagai gebrakan awal, maka luas lahan panenan pun hanya setengah hektare saja yang terbagi dalam 6 bentangan bedeng,” ungkapnya.

Bila dirinci, idealnya area seluas setengah hektare tersebut mampu menghasilkan 6-7 ton garam super beriodium per 10 harinya. “Tapi secara teknis, tiap bentangan bedeng hanya mampu menghasilkan 1 ton lebih garam super beriodium. Jadi perhitungan kita, dengan 6 bentangan bedeng itu, kita akan hasilkan 6-7 ton. Itu per 10 hari, karena siklus panenannya tiap 10 hari,” tutur Maksimus.

Maksimus menambahkan, secara teknis, setiap jiwa membutuhkan 3 kg garam per tahun. Dan kabupaten TTU yang jumlah jiwanya sekitar 251.000 lebih, membutuhkan sekitar 753 ton per tahun. Jika luas lahannya hanya setengah hektare, maka setahun kita hanya menghasilkan 183 ton, sehingga tak mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga di TTU. "Karena itu, saya rasa perluasan areal produksi garam ini cukup penting dilakukan,” tambahnya. 

Harapannya, karena produksi garam super tersebut merupakan program dari pemerintah provinsi, maka ke depannya harus ditindaklanjuti oleh pemerintah kabupaten melalui dukungan APBD untuk meningkatkan areal penambangan garam. 

“Program ini kiranya perlu didukung terutama melalui APBD untuk memperluas area penambangan garam yang menggunakan teknologi geomembran ini. Dan kita rencanakan untuk menambah luas area satu hektare lagi. Kalau sudah ada penambahan luas area, saya yakin kecukupan garam di wilayah TTU bisa terpenuhi,” tutupnya. (Yosef Serano Korbaffo)

Soal Impor Garam, Pimpinan DPR Khawatir Menyurutkan Semangat Petani Garam

Halaman: 
Penulis : Christophorus Aji Saputro