logo


Meningkatnya Kebutuhan Kakao, Peluang Usaha Penyediaan Bibit Makin Moncer

Kurangnya pasokan kakao dunia, banyak perusahaan asing mengincar kebun dan usaha cokelat di INA

10 September 2015 09:41 WIB


JAKARTA, JITUNEWS.COM - PT Inang Sari merupakan salah satu perusahaan perkebunan kakao terbesar di Indonesia. Perusahaan yang masuk dalam grup Central Trust Indonesia ini dibangun sejak tahun 1989. Awalnya merupakan perkebunan kakao yang berlokasi di Padang Mardani, Lubuk Basung, Sumatera Barat dengan luas kebun 600 Ha. Seiring berjalannya waktu, ternyata banyak permintaan akan benih/bibit kakao yang kala itu masih sangat jarang. Karena itulah, pada tahun 1993, PT Inang Sari membuka usaha pembibitan kakao seluas 14,5 Ha di daerah yang sama.

“Saya tidak tahu persis berapa kira-kira modal awal untuk membuka usaha pembibitan kakao ini. Yang pasti sekitar ratusan juta,” ungkap Devy Djauhari, General Manager PT Inang Sari.

Modal tersebut digunakan untuk membeli lahan warga, proses pembersihan lahan, pengolahan lahan sampai pada penanaman pohon.

Demi keberlanjutan usaha, PT Inang Sari berusaha menjadi perusahaan kakao yang legal dan terus memproduksi benih/bibit kakao kualitas baik. Tak hanya itu, guna memperlancar pemasaran, kantor pusat perusahaan ini berada di Jakarta, meskipun kebunnya berada jauh di pelosok Sumatera Barat. Devy mengungkapkan bahwa prospek usaha ini akan tetap bagus ke depannya. Mengingat kebutuhan kakao dunia yang terus mengalir.

“Kurangnya pasokan kakao dunia, membuat banyak perusahaan asing mengincar kebun-kebun dan usaha cokelat di Indonesia. Bahkan perusahaan kami mendapat tawaran kerja sama dengan perusahaan cokelat terbesar ke-3 di dunia setelah Cadbury,” papar Devy.

Peningkatan kebutuhan kakao, otomatis membuka lebar kesempatan usaha penyediaan benih/bibit. Jenis klon kakao yang ditawarkan PT Inang Sari adalah Lindak Hibrida F1 silangan TSH 858 X ICS 60, silangan Sac 12 X TSH 858, silangan Sca 12 X ICS 60. Benih tersebut dikemas dalam kantong plastik bening berlabel dengan isi sebanyak 500 butir. Nantinya benih dimasukkan ke dalam boks kardus kapasitas 10 kantong dengan berat total 1 boks 14 kg. Adapun spesifikasi benih kakao yang diproduksi, yakni 85 butir dalam 100 gr benih, bobot per butir sekitar 1-1.85 gr, kemurnian 90%, kadar air 40% dan daya simpan 6 hari dari tanggal packing.

“Daya simpan benih kami memang agak singkat, karena benih yang kami jual sudah dikupas dari kulit bijinya, sehingga memudahkan petani awam untuk menanamnya. Berbeda dengan pelaku lain yang benihnya bisa tahan 1 bulan. Hal itu karena pelaku lain tidak mengupas benihnya. Tentu itu membahayakan keberhasilan penanaman benih kakao di tingkat petani,” papar Devy.

Selain menyediakan bibit dalam bentuk kemasan, PT Inang Sari pun menjual bibit anakan dan bibit sambung dalam polybag. Bibit anakan merupakan benih dari biji yang ditumbuhkan menjadi bibit batang tunggal yang siap jual sejak umur dua bulan. Sedangkan bibit sambung merupakan bibit anakan yang disambung pucuk dengan usia siap jual di atas enam bulan. Spesifikasi bibit, tinggi batang berkisar 40-70 cm, diameter batang mulai dari 0,7 cm sampai lebih dari 1 cm dengan ukuran polybag 18 x 25 cm.

Kini benih/bibit PT Inang Sari telah dipasarkan ke wilayah Sumatera Barat, Palu, Lampung, Makassar, Papua, Medan dan Aceh ke kalangan Dinas-Dinas Pertanian, petani dan perusahaan swasta. Dalam setahun, setidaknya sekitar 5 juta butir benih dan 84 ribu batang bibit terjual habis. Jika diasumsikan per bulan usaha pembibitan mendatangkan omzet sekitar Rp 142.5 juta dengan keuntungan sekitar 20-30%.

Puslit Koka Jember Targetkan 10 Juta Bibit untuk Pekebun

Halaman: 
Penulis : Riana