logo


Suka Makan Telur Puyuh? Coba Saja Ternak Burungnya Langsung, Tertarik?

Telur puyuh dihargai tidak hanya sebagai makanan tapi juga memiliki khasiat penyembuhan

17 Agustus 2015 06:43 WIB

Jika Anda ingin ternak puyuh untuk keperluan produksi telur konsumsi, maka yang perlu Anda persiapkan yaitu memilih jenis ketam betina yang tidak memiliki riwayat penyakit sebelumnya. (Foto : IST)
Jika Anda ingin ternak puyuh untuk keperluan produksi telur konsumsi, maka yang perlu Anda persiapkan yaitu memilih jenis ketam betina yang tidak memiliki riwayat penyakit sebelumnya. (Foto : IST)

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Pernahkah Anda mencicip telur burung puyuh? Ya, meski kalah pamor dari telur ayam dan bebek, telur burung puyuh ternyata banyak manfaatnya lho!

Telur puyuh dihargai tidak hanya sebagai makanan tapi juga memiliki khasiat penyembuhan. Tercatat, praktisi medis Tiongkok kuno telah menggunakan telur puyuh selama ribuan tahun untuk menangani berbagai keluhan seperti rhinitis, asma, demam, batuk spasmodik bersama dengan kondisi kulit seperti eksim dan psoriasis. Nah, dengan manfaatnya tersebut maka tak salah jika telur burung yang bernama Latin Coturnix japonica ini terus meningkat dari hari ke hari.

Salah satu peternak burung puyuh tersebut adalah Soediyono Soediro. Peternak asal Sukabumi, Jawa Barat ini mengaku telah menjalani bisnis peternakan burung puyuh sejak 15 tahun lalu. Kini, di bawah bendera usaha Campur Sari Farm, sedikitnya Soediyono telah memiliki sekitar 2.500 burung puyuh dengan produktivitas mencapai sekitar 80%, dengan total produksi telur per harinya mencapai maksimal 2.000 butir.


Miris, Empat Ekor Gajah di Sri Lanka Mati Tersambar Petir

Dikutip dari laman Kontan, selain menjual telur puyuh, Soediyono juga menjual bibit dan daging puyuh. Biasanya, jika burung puyuhnya sudah berumur satu bulan, Soediyono baru melepas seharga Rp 9.500 per ekor. Meski begitu, Soediyono tidak sembarangan menjual bibit burung puyuh. Dalam tempo sebulan, ia hanya menjual dua kali bibit burung yang dalam bahasa Jawa disebut gemak itu, dengan sekali angkat sekitar 500 ekor. Jika bermaksud mengambil dagingnya, Soediyono biasanya menjual burung puyuh jantan. Bisa juga betina afkir atau betina yang berumur lebih dari dua tahun dan sudah tidak produktif bertelur lagi.

Untuk telur puyuhnya sendiri, Soediyono mengaku lebih banyak menjual ke pedagang eceran. Menurutnya, pedagang grosir selalu membeli dalam jumlah banyak dan memiliki kontrak yang harus dipenuhi. Karena masalah modal, ia belum bisa mengembangkan peternakan miliknya. Soediyono menjual telur puyuh matang seharga Rp 220 per butir. Harganya lebih mahal karena memiliki kualitas yang bagus. Contoh, ukuran telurnya yang lebih besar. Kalau telur puyuh produksi peternakan lain berisi lebih dari 100 butir per kilogram, telur produksi peternakan Soediyono hanya berisi sekitar 90 butir.

“Untuk harganya tergolong stabil. Kenaikan harga terutama jika harga pakan naik,” akunya.

Menurut Soediyono, setiap harinya setiap ekor burung puyuh memerlukan 20 gram pakan. Itu sebabnya, per bulan, Soediyono sedikitnya membutuhkan pakan hingga 1,5 ton. Dengan harga Rp 450 per kg, ia perlu Rp 675 ribu untuk biaya pakan.

Mau Usaha Ternak Burung Puyuh? Ini Kiat Suksesnya..

Halaman: 
Penulis : Riana