logo


Bangun PLTN, Pengamat: Kapasitas BATAN Belum Sampai

Bahkan, BATAN seperti menghindar ketika di ajak untuk berdiskusi terkait teknologi PLTN.

13 Agustus 2015 16:08 WIB

Ilustrasi PLTN. (Ist)
Ilustrasi PLTN. (Ist)

Nuclear Energy observer, Iwan Kurniawan, criticizes the plan of the Agency of National Nuclear Energy (BATAN) which will develop a mini nuclear power plant that they disguise under the name of Reactor Power Experiment based on high-temperature gas-cooled reactor technology.

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pengamat Energi Nuklir, Iwan Kurniawan, mengkritisi rencana Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) yang akan mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) mini atau yang disamarkan BATAN dengan nama Reaktor Daya Eksperimen (RDE) berbasis pada teknologi high-temperature gas-cooled reactor (HTGR).

Menurut mantan anggota BATAN ini, pihak BATAN tidak memiliki kapasitas dalam merancang bangun teknologi HTGR tersebut. "BATAN sebenarnya tidak menguasai teknologi HTGR, kapasitasnya belum sampai ke situ," ungkap Iwan kepada wartawan di Aula Pascasarjana Universitas Kristen Indonesia (UKI) Salemba, Jakarta, Kamis (13/8).


2019, Produsen Solar Panel JSKY Genjot Penjualan di Pasar Domestik dan Global

Iwan menjelaskan, bahwa teknologi HTGR merupakan teknologi baru setelah high-temperatur reactor (HTR) yang pernah dikembangkan di Jerman pada 1980-an, tetapi kemudian ditutup karena alasan keamanan dan keekonomian. Teknologi HTGR skala kecil yang akan dikembangkan BATAN belum ada yang benar-benar teruji.

"Tiongkok dan Jepang memang punya prototipe HTR skala kecil, tapi mereka untuk keperluan penelitian, bukan untuk produksi listrik komersial. BATAN malah klaim mau kembangkan, dari mana? Ujung-ujungnya belanja teknologi lagi," jelasnya.

Dirinya melanjutkan, Pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sepertinya sangat berambisi membangun PLTN dengan tidak memperhatikan pertimbangan yang lain. Iwan juga menyesalkan, BATAN seperti menghindar ketika diajak untuk berdiskusi mengenai PLTN.

"Saya pernah mengajak BATAN diskusi. Mari kita dialog secara terbuka boleh, tertutup boleh. Dari pensiunan BATAN, pegawai BATAN, tidak mau mereka. Mereka malah balik nanya, Anda anti atau pro PLTN," lanjut Iwan.

Melihat kondisi ini, Iwan menambahkan, harus ada sikap tegas dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memediasi polemik terkait PLTN tersebut. "Saya kira kalau seperti ini harus Presiden yang mediasi, antara yang pro dan anti," tutupnya.

Kenang BJ Habibie, Jonan: Indonesia Kehilangan Tokoh Perkembangan Teknologi Modern

Halaman: 
Penulis : Deni Muhtarudin